cerpen,  Sosmed

Youtube

Youtube Youtube Youtube lebih dari TV

Youtube Youtube Youtube lebih dari TV

 

Tentunya  sebagian anak muda penonton youtube sudah tahu dan mungkin hafal dengan lirik diatas  yakni penggalan lagu dari sekelompok anak youtuber yang nama-namanya begitu sering menghiasi layar youtube pada masanya. Iya GGS (Ganteng Ganteng Swag) yang sudah tidak perlu ditulis lagi siapa nama-nama mereka.

Youtube sendiri adalah sebuah situs web berbagi video yang sudah ada sejak tahun 2005. Situs ini mengajak para penggunanya untuk mengunggah video apapun, yang mana video tersebut dapat ditonton oleh berjuta pasang mata di berbagai belahan dunia. Mungkin dulunya youtube tidak sengetren sekarang karena aku sendiri sudah menonton youtube sejak awal SMA, dulu aku sering melihat lagu-lagu dan beberapa video cuplikan film. Namun seiring berjalannya waktu dan persaingan dunia hiburan di tv semakin kencang, maka tidak dipungkiri lahirlah para generasi muda yang membuat konten atau sekedar membuat video pendek yang diunggah ke youtube untuk dijadikan hiburan. Tentunya, kualitas video dengan berisi konten baik yang diunggah tersebut bisa menarik penonton sehingga video itu mendapatkan views banyak juga ditambah jika konten tersebut tidak mengandung copyright maka akan ada iklan-iklan yang menyelingi video tersebut dan berujung pada hasil ahir yakni royalty dari google.

Akupun pernah mencoba merasakan sensasi menjadi pemilik akun youtube yang mana memang untuk mendaftarkan diri untuk memiliki akun pada situs ini begitu mudah hanya bermodalkan alamat email gmail. Aku mulai membuat video perjalanan pada tahun 2015 dan memberanikan diri untuk mengupload ke akun youtube channel tak hanya itu juga, aku sering membuat video-video pendek mengenai hal yang sedang tranding pada saat itu tentunya membuat konten video dengan hal yang sedang trading akan mempengaruhi banyak orang untuk menonton dan subscriber juga akan bertambah. Kala itu aku sudah memiliki sebuah kamera dan aku sering berpergian ditambah modal skill editing video yang amatir menjadikanku berani tampil di depan kamera sendiri. Terkadang kalau mengingat saat awal-awal membuat video, aku selalu menertawai diri sendiri lantaran aku seperti orang gila yang bicara sendiri di depan kamera.

Tahun berganti hingga aku mengenal seorang teman dari negara timur tengah. Perkenalan kami berawal dari couchsurfing sebuah platform sosial media travel untuk para backpacker dunia. Waktu itu pertama kali ia datang ke Bali, kami menghabiskan waktu bersama untuk mengunjungi berbagai tempat wisata yang ada di Bali. Saat itu aku masih baru di dunia editing video, lalu temanku ini juga seorang youtuber dan dari kunjungan itu, kami pun sepakat untuk melakukan kolaborasi video. Bukan rahasia lagi bahwa kolaborasi adalah cara para youtuber untuk menaikan nama masing-masing di situs sosial media. Setelah mengunggah beberapa video collab dengan teman sesama youtuber tersebut, aku tidak pernah menyangka bahwa videoku akan banyak yang menonton dan inilah awal dimana aku menjadi sering membuat video karena dari sini juga follower akun instagramku kian bertambah. Bisa dikata waktu itu aku ‘sedikit terkenal’ di mata orang-orang yang hidup di dunia maya di negara timur tengah dan dari sini juga kenapa aku sering menggunakan Bahasa Inggris untuk video-video yang aku unggah ke youtube karena memang viewersku rata-rata bukan orang Indonesia.

Youtube sendiri adalah situs yang memiliki penggemar sendiri. Para penontonnya terdiri dari sebagian besar orang yang tidak suka menonton tv, orang-orang yang hanya memiliki waktu untuk mengakses situs ini semau waktunya sendiri lantaran memang youtube bebas diaskes tidak seperti tv yang memiliki waktu sendiri pada acara-acara tertentu, orang-orang yang sama memiliki akun youtube channel, dan masih banyak lagi orang-orang yang punya berbagai alasan mengapa lebih suka nonton youtube ketimbang tv.

Youtube sendiri aku gunakan untuk mengabadikan momen perjalananku. Mengapa aku membuat video pada setiap perjalanan karena agar suatu hari aku bisa memperlihatkan kepada anak cucu bahwa inilah Ibumu saat muda dulu. Bahkan aku tidak pernah memikirkan royalty sepeserpun serta aku tidak pernah memonotize uang yang ada daku dapatkan dari youtube meski banyak para pembuat konten atau youtuber membuat video untuk dijadikan mata pencaharian di youtube. Saat itu yang tertanam di otakku hanya “ketika manusia modern mati, akan meninggalkan jejak digital”. Namanya digital pasti akan tersimpan abadi dan suatu hari pasti akan ada yang mencari. Semoga anakku kelak bisa melihat perjalanku dan aku sudah menyiapkan akun youtube channelku untuk mereka teruskan jika mereka mau.

 

 

                                                                        Denpasar, November 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *