Pengamen
KETIKA kecil aku sering melakukan perjalanan lintas kota menggunakan bis umum. Banyak aku jumpai para pengamen ketika aku naik bis jurusan Kediri menuju Solo dan Jogja untuk menyambangi sodara disana. Tentunya saat hendak naik bis, aku selalu menyiapkan uang receh untuk diberikan kepada pengamen entah yang aku jumpai di bis atau di warung saat aku sedang menunggu bis yang akan ditumpangi. Saat bertemu dengan pengamen yang urakan, suaranya cempreng, dan memaksa untuk diberikan uang. Aku selalu memberikan uang recehan dengan nominal kecil. Berbeda saat aku menjumpai pengamen yang menyanyikan lagu enak didengar, dengan alunan musik yang pas serta tingkah lakunya yang menyenangkan, aku akan menyiapkan uang lembaran untuk diberikan kepada pengamen tersebut. Disini aku nampak sekali perhitungan dengan beberapa jenis pengamen yang sering aku jumpai lantaran memang aku lebih menyukai pengamen yang menyenangkan dan tulus saat menyanyikan lagu ketimbang pengamen urakan yang nggak tahu alunan lagu. Lantas kenapa aku melakukan demikian bukankah mereka adalah orang-orang yang sama, menjadikan ngamen sebagai pekerjaan untuk mendapatkan uang untuk menyambung hidupnya. Tentu aku memiliki alasan yang jelas mengapa aku seperti itu. Bagiku pengamen sama seperti para pekerja lain. Jika orang melakukan pekerjaan dengan suka cita dan ikhlas tentunya akan mendapatkan reward atau imbalan yang sepantasnya begitu sebaliknya jika orang hanya kerja asal-asalan pasti akan mendapatkan hasil yang sekedarnya saja. Lalu mengapa aku memasukkan pembahasan pengamen ke dalam tulisan ini? Karena memang aku adalah orang yang begitu menghargai profesi para pengamen, entah pengamen yang ada di jalan, bis atau sekedar pengamen yang mendatangi warung-warung. Bahkan aku sendiri juga pernah menjadi pengamen jalanan saat aku melarikan diri dari rumah (baca Bukan Anak Broken Home).
Pernah menjadi seorang pengamen jalanan bukan menjadi hal yang memalukan yang pernah aku lakukan sepanjang hidup. Meski pada akhirnya ada salah satu kelurgaku yang pernah mendapati aku sedang mengamen di lampu merah dan akhirnya beliau melaporkan kejadian itu kepada keluarga besar saat ada di acara keluarga, namun yang terjadi malah nenekku membelaku ditambah dengan mengeluarkan steatmen bahwa Sri Mulyani Menteri keuangan itu juga pernah jadi pengamen saat beliau masih kuliah. Alhasil aku tidak jadi dihakimi oleh keluarga besar lantaran aku mendapatkan pembelaan dari orang yang paling tua di keluarga walaupun ada beberapa keluarga masih memasang muka sinis dan merasa malu memiliki saudara sepertiku. Bagiku menjadi pengamen banyak mengajarkanku untuk selalu percaya diri di setiap situasi dan kondisi dimanapun berada. Tentunya sebelum aku ingin mengamen aku selalu melatih diriku untuk menghafal lirik lagu dan mengetahui melodi tangga nadanya. Aku sering mengamen dengan temanku yang membawa gitar atau kentrung sedangkan aku yang bernyanyi sambil bertepuk tangan. Menurutku menjadi pengamen tak ubah sama dengan seorang penyanyi yang sedang bermain musik dan bernyayi di café, panggung, konser besar atau di tv karena memang pada dasarnya semua untuk menghibur dan berakhir pada mendapatkan imbalan berupa uang. Saat mengamen, aku tidak pernah sama sekali memikirkan berapa uang yang akan aku dapatkan karena memang sebenarnya aku memiliki uang sendiri tanpa harus mengamen. Lantas mengapa aku harus jadi pengamen? Kembali lagi karena aku ingin melatih kepercayaan diri saat di depan orang banyak. Dari kepercayaan diri yang pernah aku dapatkan saat menjadi seorang pengamen dahulu, sekarang membuatku berani untuk bicara di depan orang banyak saat diundang pada acara tertentu, aku juga jadi berani untuk membuat video perjalanan yang aku upload ke youtube channel, dan aku menjadi berani untuk menyampaikan sesuatu kepada keluarga jika pengalaman menjadi pengamen sudah membentuk karakter untuk tidak menjadi orang yang malu-maluin. Aku begitu salut pada seluruh pengamen yang tulus bernyayi yang aku jumpai selama hidup.
Kediri, Juni 2011


