cerpen,  Sosmed

Tinder

TEKNOLOGI internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekarang, hal inilah yang kemudian melahirkan media sosial. Medsos sendiri adalah media yang hanya dapat diakses dengan menggunakan internet. Seperti yang sudah pernah aku tulis di bab-bab sebelumnya megenai media sosial dimana para penggunanya bisa menuangkan ide, mengekspresikan diri, dan menggunakan media ini sesuai dengan kebutuhannya. Kehadiran media sosial memberikan kemudahan bagi manusia modern untuk berkomunikasi dan bersosialisasi. Bahkan untuk mencari gebetan atau sekedar kencan buta bisa langsung didapatkan secara instan dari aplikasi dating online. Tentunya semua orang mengenal tinder yakni salah satu media sosial yang didukung melalui aplikasi kencan dalam smartphone dengan pengguna terbanyak yang hadir pada tahun 2012. Tinder muncul sebagai sarana untuk menjalin pertemanan, kencan atau romansa dari lawan jenis di seluruh belahan dunia untuk membuat koneksi baru yang sebelumnya mungkin sulit untuk di wujudkan.

Tentunya kehadiran tinder ini bukan mencerminkan budaya kita, sebaliknya tinder lebih menonjol untuk budaya barat. Namun lambat laun menurut hasil mengamati sekitar, kini tinder begitu populer ditengah masyarakat dewasa muda Indonesia. Tinder dapat diunduh dalam aplikasi handphone berbasis Android dan Ios dimana para penggunanya dapat berkomunikasi jika satu sama lain memiliki “matches” atau saling menekan tombol “love”. Selain itu, tinder juga memiliki fitur untuk membagikan beberapa foto dan memperlihatkan ketertarikan yang sama diantara penggunanya yang dapat dijadikan referensi untuk menyukai pengguna lainnya. Karena tinder memberikan kemudahan bagi tiap penggunanya untuk menggunakan aplikasi tersebut hanya dengan swipe kanan jika suka dan swap kiri jika tidak suka maka pengguna dapat memilih atau menolak pengguna tinder lainnya. Selain itu, Tinder juga merupakan aplikasi kencan online yang cukup dekat dengan kalangan muda tak ketinggalan aku juga pernah mengunduh aplikasi tersebut dari hp genggamku.

            Aku mulai aktif di tinder pada tahun 2018, meski sebenarnya aku sudah mengenal tinder sejak jaman kuliah tapi aku tidak pernah sama sekali ingin menggunakannya. Iya, alasan pertamaku memakai tinder karena sudah terlalu bosan saat dilanda kesendirian hingga pernah diselingkuhi pacar karena tinder juga (baca 6 Tahun Ambyar Juga). Dari semua alasan itu membuat aku ingin mencoba untuk memakai tinder dan merasakan pengalaman bagaimana mendapatkan seorang cowok untuk dijadikan temen jalan hingga teman kencan. Terkadang aku ingin memukul diri sendiri, mengapa aku  terlahir menjadi manusia yang penuh dengan rasa ingin tahu dan penasaran yang berlebihann terhadap sesuatu.

            Singkat cerita saat aku sedang break time dari pekerjaan yang ada di Papua. Aku mulai membuka aplikasi tinder dengan harapan dapat bertemu dengan cowok, tentunya aku tidak begitu punya ekspetasi tinggi terhadap kriteria cowok yang akan bertemu denganku nanti yang ada dibenakku hanya “aku siap untuk bertemu berbagai macam cowok dari tinder”. Tiba-tiba aku matches dengan satu cowok yang kalau dilihat dari fotonya serta bio profilnya nampak jika cowok itu asik. Bagaimana aku bisa menduga bahwa cowok yang matches tersebut asik hanya dengan melihat dua foto yang ada di profilnya serta satu nama yang entah itu nama asli atau samaran. Tentunya aku belajar dari yang sudah-sudah, sebelum mengenal cowok dan akan jalan bareng dengan orang baru, aku sudah mencari tahu orang itu terlebih dahulu, dengan bermodal media sosial. Aku akan mencari namanya di facebook maupun Instagram dari situ jika nama mereka ada di salah satu akun medsos tersebut, aku akan menilai bahwa ini orang memang ada keberadaanya. Ketika manusia modern hidup di dunia maya akan memberikan penilaian khusus dengan media sosial yang digunakan seperti contoh, jika instagramnya berisi dengan postingan tempat-tempat wisata bisa dikatagorikan bahwa orang tersebut suka travel lalu jika postingan orang tersebut hanya berisi dengan selfie mukanya saja bisa dikatakan pengguna itu adalah seorang yang narsis. Memang bodoh terkadang jika aku hanya bisa menyimpulkan seseorang dari postingan yang aku lihat namun kembali lagi, jika tidak ada postingan yang mencurigakan makan bisa dipastikan orang tersebut memang layaknya orang-orang biasa yang menggunakan media sosial secara wajar bukan sebaliknya.

Lalu selanjutnya kami memasuki fase proses komunikasi yang berjalan selayaknya sepasang muda-mudi yang ingin berkenalan dan melanjutkan ke tahapan hubungan pdkt. Setelah mengenal cowok pertama yang aku temui di tinder sudah berjalan beberapa bulan, komunikasi antara kami berdua layaknya matahari timbul dan tenggelam. Hubungan kami bisa dikatakan tidak terlalu intens lantaran kami sama memiliki kesibukan dalam pekerjaan masing-masing. Untuk menjalin suatu hubungan antar pribadi dari para pengguna tinder, tentunya diperlukan komunikasi dan interaksi antar penggunanya. Baik untuk menjalin hubungan romantis sebagaimana yang menjadi tujuan dari media sosial tinder itu sendiri, ataupun sekedar menjalin hubungan pertemanan. Karena hubungan antar pribadi dan komunikasi antar pribadi merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, dan dalam berkomunikasi itu sendiri, bukan hanya pertukaran pesan saja yang terjadi, tetapi juga penentuan kadar hubungan antar pribadi bagi tiap komunikan di dalamnya. Aku sendiri sengaja menggunakan tinder untuk mencari teman jalan bukan dijadikan ajang memburu cowok untuk dijadikan teman kencan dalam waktu singkat seperti menyalurkan hasrat seksual.

Dari pegalaman mengenai tinder aku bertemu dengan beberapa orang asik yang memiliki profesi keren dan kemudian satu dari mereka menjadi teman, ada dua dari mereka saling naksir selama beberapa waktu, tapi tidak satupun dari hubungan dengan mereka berubah menjadi hubungan jangka panjang yang serius. Selain bertemu dengan orang-orang hebat, aku juga pernah berkomunikasi dengan beberapa laki-laki di tinder, setelah kami melakukan pertemuan ternyata mereka adalah satu anggota dari kepolisian, tni, dan yang terkahir aku tidak menyangka sebelumnya akan bertemu dengan laki-laki dari bin. Setelah aku mengetahui bahwa mereka adalah anggota yang berperan besar untuk negara,  lantas aku memberhentikan komunikasi secara sepihak karena alasan aku tidak ingin berteman apalagi hingga berkencan dengan mereka, karena itu akan membuat ketakutan pada diri sendiri. Hingga suatu hari pada awal 2019 aku memutuskan untuk menyudahi tinder dengan menghapus akun dan uninstall aplikasi tersebut lantaran aku merasa sudah banyak membuang waktu dan membuat mentalku tidak sehat seperti sebelum memakai tinder. Aku menyadari bahwa hidup ini akan lebih nyaman ketika kita melakukan komunikasi dan bersosialisasi dengan orang baru secara tradisional ketimbang digital.

 

 

 

                                                                                    Mimika, Maret 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *