Memasak
SEBAGAI manusia normal, memasak memanglah hal yang sering dianggap sebagai hal yang biasa saja dan bagi sebagian orang menganggap memasak adalah suatu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Memasak juga suatu pekerjaan yang membantu untuk kelangsungan hidup setiap manusia yang melakukan pekerjaan ini. Menjadi manusia yang dianugerahi oleh skill memasak akan menjadi nilai plus ketika nanti menjalani kehidupan berumah tangga atau setidaknya saat tinggal sendiri dan mengharuskan untuk berhemat dengan masak makanannya sendiri. Meski pada kenyataannya masih banyak orang diluar sana yang tidak bisa memasak, akan tetapi masih bisa melanjutkan kehidupannya sendiri entah mereka makan dengan membeli makanan di warung, restoran, atau menggunakan jasa ketering untuk mengantar makanannya setiap hari dan beruntungnya lagi bagi yang tidak bisa memasak, bisa saja langsung mendapatkan makanan dengan order lewat gofood dari aplikasi smartphonenya.
Kebanggaan terbesar dalam hidup adalah ketika aku dilahirkan dari kedua orang tua yang bisa memasak. Iya, papa dan mama adalah orang yang paling suka memasak di rumah. Pada saat kecil aku masih ingat betul, sering melihat kedua orang tuaku masak besar lalu mengundang teman-temannya untuk sekedar makan bersama di rumah. Kecintaan kedua orang tuaku untuk selalu mengolah makanan rumahan sendiri inilah yang mungkin membuat aku tumbuh menjadi perempuan yang bisa memasak sekarang. Bagiku memasak adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Aku adalah perempuan yang sedari kecil sudah membiasakan diri untuk belajar memasak, mulai dari masak hal yang mudah seperti merebus air, menggoreng telur, dan memasak mie instan. Hingga selanjutnya aku tumbuh besar dan mengharuskan diri untuk bisa memasak sebuah makanan yang dapat menunjang kebutuhan gizi serta energi pada tubuh sendiri dan kebutuhan perut orang-orang terdekat yang ikut menikmati makanan dari masakanku. Lalu mengapa aku memasukkan pembahasan memasak ke dalam bab pelajaran kehidupan, yang mana jika dikaitkan dalam kehidupan memasak adalah kegiatan yang teramat biasa dilakukan oleh manusia di seluruh dunia. Menurutku memasak sama seperti pekerjaan lain yang harus dikerjakan dengan tulus juga, jika kita memasak dengan gaya yang asal-asalan tanpa memperdulikan hasil jadinya maka tak dipungkiri lagi makanan yang mau disantap pasti nggak karuan rasanya, tak karuan bentuknya, dan berakhir tidak layak untuk dimakan. Dari kegiatan masak yang sering aku lakukan saat tinggal jauh dari orang tua, membuatku mempelajari dan memahami sebuah renungan hidup dari memasak. Ambil contoh ketika aku sedang menggoreng tahu, tahu goreng selain murah juga menjadi makanan kesukaan yang gampang untuk diolahnya. Saat menggoreng tahu jangan sering dibolak-balik karena akan membuat tahu tersebut hancur, tunggu hingga warna tahu berubah menjadi kecokelatan. Dibalik dari menggoreng tahu ini, aku analogikan pada bagaimana kita bersikap kepada orang lain, jangan sering ikut campur dalam masalah kehidupan orang-orang yang dikenal maupun dekat dengan kita, tunggu hingga orang tersebut meminta saran. Atau jika orang tersebut salah, jangan buru-buru dibalik salahkan atau dibenarkan. Tunggu sampai kita benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tersebut. Menurutku itulah yang terkadang sering terjadi di kehidupan, kita terlalu berintervensi dan berlebihan dengan kehidupan orang lain.
Kembali lagi pada memasak. Bagiku memasak juga adalah sebuah seni yang membutuhkan kreatifitas. Sebuah seni pastinya akan membutuhkan sebuah sentuhan tulus. Dari menyiapkan bahan yang ingin dimasak, kebersihan, rasa, dan terkahir adalah langkah-langkah yang tepat dalam proses memasak untuk menjadikan suatu makanan yang berguna bagi tubuh dan kelangsungan hidup. Memasak juga aku jadikan sebuah meditasi di saat aku sedang kalut dengan keadaan yang tidak menyenangkan seperti pada saat galau, aku melarikan diri ke hal positif untuk mencoba resep masakan baru. Memasak juga membutuhkan kreasi sendiri, terkadang aku mencoba untuk menambahkan bumbu baru yang aku yakni akan menambah cita rasa kepada makanan yang sedang aku masak. Ketika makanan sudah jadi dan saat disantap terasa nikmat tentunya akan menimbulkan klimaks dan melegakan diri. Terkadang aku menyantap makanan yang telah aku masak sendiri dengan teman sekos. Aku bahagia jika temanku menghabiskan makanan tersebut lalu memujiku dengan kalimat singkat “enak makananya, terimakasih”.
Selain memasak menjadi sebuah meditasi pada diri sendiri. Kegiatan memasak banyak mengajarkanku untuk melatih kesabaran, ambil contoh saat aku sedang memasak sayur lodeh yang mana memang jika memasak sayur seperti ini yang pertama aku harus menyiapakan semua bahan, dari mengupas bawang dan meracik bumbu, lalu membersihkan sayur, menyiapkan santan dari kelapa. Selanjutkan memasukkan semua bahan menjadi satu ke dalam panci. Saat memasak seperti ini, sayur tak akan matang dengan sendirinya, karena kita harus mengatur suhu kompor sambil mengaduk sayur dengan perlahan. Setelah semua bahan masuk, tentunya aku harus menunggu beberapa menit hingga sayur tersebut lunak, lantas mencicipi kuahnya lalu jika ada rasa yang menurutku kurang pas, maka aku akan menambahkan garam dan penyedap rasa secukupnya. Terkadang aku dapat menghabiskan waktu sejam lebih untuk menghasilkan sebuah masakan untuk makan malam yang dapat mengenyangkan perut dan membuat tidur menjadi nyenyak.
Dari memasak menjadi pelajaran fundamental yaitu melatih diri untuk lebih bersabar dan tidak terburu-buru yang bisa diterapkan dalam segala aspek pekerjaan dan kegiatan yang sedang kita lakukan dalam menjalani kehidupan.
Denpasar, Maret 2020


