UANG
MENJALANI kehidupan di dunia yang serba instan ini, membuat manusia menjadi hilang rasa kepeduliannya terhadap manusia lain, terlebih pada saat anak-anak yang sedang menyandang status pelajar yang mana mereka masih hidup dengan bantuan uang dari orang tua, meski orang tua memang harus dan masih bertanggung jawab dengan anak-anaknya selama mereka belum diambil orang atau menikah. Mengapa aku memasukkan uang ke dalam tulisan ini? Aku bukan ingin membahas mengenai uang sebagai alat ekonomi dalam kehidupan, namun aku ingin membagi perasaan mengenai pengalaman hidup tentang pemberian uang dari orang tua. Terkadang aku ingin kembali ke tahun 90an. Dimana pada saat itu aku masih kecil dan ketika mendapatkan uang saku untuk sekolah, orang tuaku selalu memberikan langsung dari tangannya tak perlu menggunakan sistem transfer seperti sekarang ini. Saat mendapatkan uang saku secara tunai semasa kecil, aku merasa ada selipan pesan dari uang yang mereka berikan. Sebuah pesan dari orang tua yang mengharapkan agar aku belajar dengan baik saat bersekolah karena uang yang diberikan itu adalah hasil kerja keras dari orang tua yang disertai do’a, terlepas dari itu semua aku harus mempertanggugjawabkan uang pemberian dari orang tua dengan cara belajar yang giat saat di sekolah.
Aku pernah merasakan mendapatkan uang saku dari transferan orang tua ketika aku hidup jauh dari papa dan mama yang mana saat mendapatkan uang tersebut, aku merasakan kehidupan yang berbeda terbalik dengan masa kecilku dahulu. Semakin mudahnya mendapatkan uang dari sistem transfer membuat aku tidak mempedulikan lagi betapa orang tuaku yang jauh disana telah bekerja keras membanting tulang agar aku mendapatkan pendidikan yang layak. Saking mudahnya mendapatkan uang kiriman dari orang tua, membuatku benar-benar tidak dapat mengontrol diri, seperti ingin segera menghabiskan uang untuk hal lain dengan membeli barang tidak penting yang mana seharusnya uang tersebut untuk keperluan membayar spp dan kebutuhan makan selama sebulan saat kuliah. Melihat juga pada sekitar begitu banyak anak-anak yang hidup dijaman serba modern dengan mudahnya mendapatkan uang dari transferan orang tua dan mudah juga untuk menghabiskan uangnya tanpa memikirkan betapa orang tua berjuang begitu kerasnya dalam bekerja demi mendapatkan uang untuk Pendidikan anak-anaknya. Jika uang saku habis tinggal menelepon orang tuanya atau sekedar chat di whatsapp tanpa basa basi menanyakan kabar orang tua, dan seketika orang tuanya langsung mengirimkan uang ke rekening. Lantas apakah sistem transfer bisa disalahkan? Karena semakin instan menjalani kehidupan, semakin hilang juga rasa kepedulian seseorang kepada esensi kehidupan.
Denpasar, Maret 2020


