6 Tahun Ambyar Juga
TIGA semester sudah aku lalui menjadi seorang mahasiswi perantau di Bali. Hidupku berjalan seperti apa adanya, aku masih pergi kerja part time di pagi sampai siang untuk mencari tambahan uang jajan dan sorenya aku pergi ke kampus untuk belajar. Aku sudah tidak lagi melulu mengeluhkan untuk mencari pacar atau sekedar nyari gebetan buat ngedate di malam minggu karena lantara sudah terlalu sering kena php dan hal-hal yang banyak menguras perasaan tidak enak dengan cowok-cowok sebelumnya. Trauma mengenai kegagalan cinta di masa lalu bikin aku melabeli semua cowok itu sama, suka nyakitin, dan ninggalin begitu saja tanpa mengerti perasaan cewek. Mungkin aku juga terlalu merespon berlebihan terhadap semua kisah cintaku sebelumnya sampai akhirnya aku beneran nutup diri untuk deket sama cowok (Indonesia). Maaf bukan bermaksud rasis namun aku begini karena pure berkaca pada kisah cinta masa lalu.
Hidup di Bali yang notabennya selalu bertemu berbagai macam orang dari seluruh dunia yang datang (baca turis internasional) membuat aku berpikir mungkin ini saatnya aku mencoba untuk menjalin hubungan dengan cowok dari luar negeri. Tentunya aku berbicara sendiri di depan kaca, “Apakah aku bisa jalan sama cowok dari beda negara? Bukankah aku bisa berbahasa Inggris? Lantas apa yang aku takutkan?” masih banyak lagi pertanyaan aneh yang keluar dari kepalaku saat itu. Hingga akhirnya tepat di hari sebelum ulang tahunku pada 2013. Aku dipertemukan dengan cowok yang berasal dari Australia secara tidak sengaja di parkiran sebuah super market di Kuta. Bisa disebut pertemuan kami begitu konyol pada waktu malam itu, kami bertemu tepat di parkiran motor saat masing-masing kami ingin mengambil motor. Dia menyapa aku duluan dengan gaya bahasa Indonesia yang tidak jelas. Singkat cerita, kamipun berkenalan dan menjalin hubungan layaknya sepasang anak muda yang pacaran. Selama menjalani hari-hari dengannya, hidupku mulai Nampak berwarna. Aku banyak mempelajari hal baru dengannya, dia juga selalu mengajak aku untuk bergaul dengan teman-temannya yang mana meraka sama berasal dari Ausralia juga. Cowok itu mengenalkan hal-hal baru yang belum aku tahu sebelumnya seperti mengajak banyak membaca buku motivasi serta bisnis, bermain surfing, menjaga kesehatan dengan berolah raga, makan sehat, dan menggosok gigi sebelum tidur. Cowok Australia ini adalah seorang pemain surfing, dia begitu mencintai ombak Bali. Jauh sebelum perkenalan kami, ia sudah menghabiskan waktu tujuh tahun di Bali hanya untuk mancari ombak dan bermain surfing. Aku pikir menjalin hubungan dengan bule itu adalah hal yang mewah namun tidak saat aku bersamanya dia, ia adalah cowok bule yang apa adanya sama seperti kita orang Indonesia. Dia begitu mencintai makanan Indonesia terlebih nasi padang, maka tak dipungkiri ia begitu cocok dengan aku yang juga suka maka rendang. Entah memang karena makanan Indonesia yang harganya murah atau dia memang suka cita rasa masakan Indonesia.
Satu bulan berlalu kami lewati dengan menjalani hubungan. Hingga pada Oktober 2013, keluarganya datang ke Bali untuk liburan. Iya pacarku memperkenalkanku dengan orang tua dan adik perempuannya. Sungguh ini adalah hal yang baru terjadi didiriku, aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya, diperkenalkan orang tua dari pacar dan tentunya hidup aku sedikit berubah seperti yang biasanya aku celemotan bicara ceplos-ceplos pakai Bahasa Indonesia kini harus menjaga sikap sembari beradaptasi dengan keluarganya menggunakan bahasa yang berbeda. Yang aku tahu saat itu hanya indah menjalani hubungan dengan cowok yang memiliki background nasionality berbeda. Selama pacaran juga kami tidak pernah sedikit pun bertengkar mengenai hal yang tidak penting, ia begitu mendukungku dan memberikan motivasi untuk aku lebih bersemangat selama kuliah, dia juga orang yang menjadi support system selama aku menjalani hidup di Bali, aku bisa menyelesaikan naskah pertamaku dan terbit menjadi buku juga salah satunya karena dia, aku mulai membuat Youtube channel. dan mengerti photography juga karenanya, aku benar-benar mengagumi dia tak hanya sebagai seorang kekasih namun juga sebagai guru, kakak, pengganti orang tua, sahabat, dan orang yang bisa aku percaya selama aku menjalani hidup sampai aku menuntaskan kuliah. Jika aku harus menulis mengenai dia ke dalam naskah “My diary with my boyfriend” mungkin aku sudah bisa membuat satu buku tentangnya.
Waktu melesat cepat. Hingga hubungan kami sudah berjalan selama tiga tahun. Kami pun tinggal serumah bareng, meski pada dasarnya di Indonesia tidak memperbolehkan pasangan bukan suami istri yang sah untuk tinggal bersama namun aku sudah tidak memikirkan hal itu dan ini adalah hubungan pacaran paling lama yang pernah aku jalani selama hidup. Saat itu yang ada di otakku hanya ia adalah orang yang benar-benar mengerti aku dan aku tidak akan pernah sekali menghianati hubungan ini. Namun tahun 2016 kami harus memulai hubungan jarak jauh dikarenakan ia harus kembali bekerja di Australia dengan alasan finansial, iya dia terlalu lama menetap di Bali tanpa berkerja, maka dari itu ia harus kembali ke negaranya untuk kerja dan kami pun melanjutkan kisah cinta kami dengan jarak jauh. Hubungan LDR kami berjalan lancar, seperti halnya LDR lain, kami berkomunikasi instens lewat skype setiap hari pada jam-jam tertentu seperti sebelum kami tidur dan weekend. Dalam masa LDR, aku melanjutkan hidup seperti biasa di Bali, meski terkadang aku sedih harus melihat kenyataan punya pacar tapi serasa jomblo, namun tidak sekalipun membuat aku berniat untuk nyari cowok lain untuk sekedar ngobatin kesepianku. Aku begitu percaya dengannya karena memang pada saat itu semua fasilitas yang ia punya di Bali, seperti rumah kontrakan, motor, dan semua yang dimiliki diberikan kepadaku untuk aku rawat. Maka dari situ aku merasa memiliki tanggung jawab besar dengan apa yang dia titipkan sama seperti aku harus menjaga cinta untuknya.
Selama dia hidup di Australia dan aku di Bali dengan kehidupanku yang Ups and downs. Aku banyak mengisi waktuku dengan traveling, menulis, bikin video, dan aktivitas yang menurut aku bisa melupakan kesepian yang sedang aku hadapi. Hingga pada September 2017, sebelum hari jadian dan tanggal ulang tahunku tiba, ia yang aku nantikan pun datang. Tentunya kedatangan dia seraya membuatku berbunga-bunga, karena hampir setahun kami berpisah. Kembalinya ia ke Bali, kami menjalani hubungan seperti pada masa pacarana dulu, pergi nonton, pergi ke pantai nyari ombak untuk surfing, pergi nongkrong bareng temen-temen surfing lain, dan kami menghabiskan banyak waktu yang indah, dan aku yakin sampai aku menyelesaikan tulisan ini aku tidak pernah melupakan apapun yang sudah kami jalani bersama.
Suatu hari, ia merencanakan untuk pergi solo trip ke Pulau Rote untuk surfing, tentunya aku tidak menaruh rasa curiga sama sekali dengannya, karena memang ia suka pergi surfing, namun yang membuat aku sedikit aneh adalah dia bukan tipikal anak muda yang suka traveling sendirian, kalau mau pergi surf trip pasti selalu dengan teman-teman surfingnya, namun pada bulan Oktober di tahun yang sama dia ninggalin aku ke Rote, aku cuma bisa iyain saja toh aku peduli dengannya karena hampir satu tahun ia hanya bekerja di Australia jadi kalau sekarang mau pergi surfing ya ini saatnya dia untuk nikmati waktunya. Namun ada satu hal yang membuat aku sedikit mengganjal, aku begitu mengenalinya sekali ia adalah tipe cowok yang tidak suka pergi trip sendirian berbeda dengan aku yang selalu suka ngetrip sendiri. Tiga minggu sudah ia meninggalkan rumah dan kembalinya ke Bali ia membawa banyak cerita menarik yang pastinya aku selalu senang mendengarkan, bukankah sepasang kekasih itu harus saling mendengarkan, begitu juga dengan kami. Kami berdua menjalani hari-hari kembali normal lagi, aku masih percaya jika hubungan kami akan baik-baik saja.
Pada suatu hari dimana waktu membuat aku semakin mikirin dia, karena gelagat anehnya. Dia adalah tipe cowok yang tidak suka menghabiskan waktu dengan smartphone, bahkan dia tidak punya akun facebook atau sosial media lainnya hanya akun email dan skype yang dia punya, namun hari itu keanehan dia nampak terlihat mencolok. Dia membeli satu hp android. Hari-harinya dengan hp baru dan ia tidak bisa lepas dari layar hpnya sama sekali. Dan ini membuat aku berpikir keras sembari bicara dalam hati “kamu bukan cowok yang aku kenal dahulu, yang mana kamu selalu tidak peduli dengan hp karena memang kamu suka membaca buku ketimbang mainan hp”. Selama aku pacarana bertahun-tahun dengannya, aku tidak pernah sama sekali cek hpnya karena aku memang bukan tipe cewek yang peduli dengan hp pasangan. Bukankah hubungan harus dilandasi dengan kepercayaan.
Hari demi hari memasuki bulan November 2017, perasaanku semakin tidak enak meski sekarang dia berada di Bali dan kami hidup serumah bersama, namun tidak pada hari itu. Siang itu dia pergi surfing dan meninggalkan hpnya di atas meja. Seakan ada dorongan teramat kuat untuk aku menyentuh hpnya dan tangan ku pun semakin cekatan untuk mengambil hp itu, entah kebetulan atau kuasa sang maha esa, hpnya tidak terkunci, akupun langsung membuka hp dan yang tak habis aku pikir dan tak aku kira, muncul begitu banyak aplikasi sampah seperti beetalk, tinder, dan entah aplikasi lain yang namanya tidak jelas yang mana aplikasi-aplikasi itu untuk mencari pasangan blind date, sontak aku juga segera mengecek whatsappnya dan mataku begitu perih ketika melihat begitu banyak chat dengan cewek-cewek dari seluruh negara yang isinya tidak karuan pokok bahasannya. Aku segera mengembalikan hp itu ke meja, aku menjerit dan menangis menjadi waktu itu juga. Aku tidak pernah melihat dan akan mengira dia seperti ini. Aku marah dan aku begitu sakit hati, sakit yang teramat sakit hingga aku tidak bisa lagi mengeluarkan suaraku sendiri.
“Apa salahku, kenapa dia membuat ini semua? Apa aku kurang sempurna di matanya? Bukankah kami begitu indah? Apa dia sudah tidak memiliki perasaan cinta kepadaku lagi?” rentetan pertanyaan itu menyelingi tangisku di siang hari. Dua jam berlalu, aku masih menangis dengan mata bengkak dan raut muka yang jangan ditanya lagi bagaimana, lalu ia kembali dari surfingnya, seperti biasa ia menghampiriku ke kamar lalu bertanya “Ovi, makan malam kita apa hari ini?” Lantas aku segera berdiri lantas mengambil hpnya yang tergeletak di atas meja tadi, aku tunjukan semua dan minta penjelasan mengenai isi hp dia. Dia hanya tersenyum dan memperlihatkan raut muka yang mengakui kesalahannya, lalu menjawab “itu cuma main-main saja, lagian aku nggak ada waktu buat ketemu dengan cewek-cewek itu, kan kamu tau sendiri setiap hari aku sama kamu”. Emosiku masih di atas angin neraka, aku langsung membanting hp itu di depannya, hancur berkeping, lalu aku kembali menangis histeris. Dia langsung memeluk aku, namun aku melepas pelukanya. Dengan nada yang terbata-bata dalam tangisan aku mengucap “kamu bilang kalau memang sudah tidak bisa menjalani hubungan dengan aku, kamu bilang kalau kamu tidak mau aku hadir di hidup kamu lagi!”. Sungguh siang itu menjadi drama telenovela yang pernah terjadi saat aku bersamanya selama menjalani hubungan yang sudah bertahun-tahun ini. Entah kenapa pada saat itu akhirnya aku bisa luluh dan memaafkannya, entah aku yang bodoh atau aku terlalu polos untuk menjadi perempuan. Jujur sayangku terhadapnya melebihi apapun, aku memang cewek yang berlebihan dengan semuanya, namun aku tidak bisa menghakiminya yang hanya melakukan satu kesalahan itu dibanding dengan dia adalah salah satu orang yang sudah membuat aku kuat sampai saat ini untuk meraih beberapa cita-cita yang sebagian sudah terwujud. Akhirnya Aku dan dia baikan dan kami melanjutkan hidup seperti biasa. Dia tidak punya smartphone lagi dan kembali memakai hp biasa, hingga pada akhir November 2017 aku mendapatkan tawaran kerja di Papua dan kami pun memutuskan untuk menjalani LDR kembali.
***
Tahun berganti 2018. Aku memulai kehidupan baru di Papua, aku sudah memasuki usia 26 tahun, dan aku begitu sibuk mempelajari tanah baru, sosial, budaya, orang-orang baru yang ada di Papua sehingga aku sudah tidak terlalu memikirkan mengenai masalah percintaan dengannya lagi, meski kami masih menjalani hubungan jarak jauh antara Papua dan Bali. Selama kami LDR dia adalah orang yang masih peduli denganku karena tidak dipungkiri selama aku di Papua, ia selalu mengirimkan vitamin dan beberapa hal yang aku butuhkan yang mana tidak bisa aku dapatkan di Papua. Dia juga yang selalu menguatkanku untuk menjadi anak muda yang harus memiliki pengalaman hidup yang keren ketimbang hanya duduk di satu tempat, tidak melakukan apa-apa, dan tidak berkembang. Jika kalian bertanya kepadaku mengenai dia, tetentunya aku akan menjawab “perasaanku sudah tidak sama lagi kepadanya, aku sudah tidak percaya lagi dengan dia”, namun entah mengapa aku masih belum bisa memutuskan hubungan layaknya relationshit ini. Aku dan dia masih menjalani kisah seperti layaknya LDR sebelumnya melakukan video call, chats, dan telepon biasa untuk sekedar memberi tahu kabar masing-masing serta memberikan dukungan untuk kehidupan masing-masing. Di tahun itu dia juga lebih menyibukkan diri untuk memulai bisnis dan berpergian ke negara lain. Aku bahagia jika melihatnya bahagia melakukan hal yang dia sukai begitu juga sebaliknya. Dari situ aku hanya bisa pasrah dengan hubungan kami, meski sebenarnya aku sendiri tahu bahwa dia tanpa aku sekarang akan memulai menggunakan aplikasi-aplikasi sampah untuk mencari cewek lain yang bisa menemaninyaa entah dimana pun ia berada. Sebagai cewek yang punya perasaan yang lebih peka, aku begitu yakin jika dia menyelingkuhiku selama aku di Papua, tapi apa yang bisa aku perbuat? Tidak ada, selain aku diam dan menyibukkan diri dengan aktivitas baru yang lebih menarik di Papua. Singkat cerita setahun sudah aku habiskan waktu untuk bekerja di Papua. Aku mendapatkan cuti di akhir Desember 2018, lalu aku kembali ke Bali dan berjumpa dengannya lagi, namun saat bertemu dengannya semua rasa yang pernah diberikan kepadaku sebelumya sudah tidak bisa aku rasakan lagi. Iya dia berubah begitu dingin dan tak banyak bicara saat pertemuan itu. Layaknya seseorang yang memyembunyikan sesuatu namun entah apa yang disembunyikan dariku. Hampir satu tahun dua bulan kami berpisah dan kami hanya dipertemukan sehari saja karena esoknya ia sudah harus berangkat ke Jepang dengan alasan ingin bermain skyboarding disana. Aku hanya bisa diam dan tak banyak bicara, aku pikir aku sudah tidak bisa lagi membendung kesedihanku pada saat itu. Aku hanya menunggu ia bicara mengenai kepastian dan keputusan yang terbaik untuk hubungan kami berdua.
Satu tahun berlalu dan mulai memasuki 2019. Aku dan dia masih berkomunikasi baik lewat whatsapp dengannya. Namun ada yang aneh ketika ia meneleponku dan mengeluarkan kalimat “Ovi, jika kamu bosan dengan pekerjaanmu dan kamu merasa kesepian, kamu bisa dekat dengan laki-laki yang kamu temui di Papua”, tentunya saat ia mengatakan seperti itu, layaknya ditampar oleh teplon panas. Aku masih tidak habis pikir, kenapa ia sampai mengatakan hal demikian. Apa karena ia begitu peduli dengan psikologisku lantaran pekerjaanku di Papua semakin menekanku atau memang ada keanehan dibalik ucapanannya. Saat itu aku hanya meresponnya dengan becanda dan mencoba untuk tidak memasukkan ke dalam hati. Namun selang waktu tak lama aku mendapati jika ia telah memiliki pengganti diriku. Iya aku mengetahui ia telah menjalin hubungan dengan seorang perempuan dari Jepang yakni seorang janda kaya, pemilik rumah sakit, dan memiliki satu anak laki-laki. Tak aneh jika setiap tahun dia sering berpergian ke Jepang dan menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan di sana dikarenakan memang ternyata selama itu dia telah menjalin hubungan dengan perempuan itu.
Jangan ditanya aku mendapatkan informasi itu dari mana, seperti yang orang katakana bahwa perempuan lebih pintar dari pada agen rahasia. Dari kejadian yang menyesakkan hati ini, aku bisa menyimpulkan kalimat yang pernah ia lontarkan sebelumnya, saat dia membolehkan aku untuk dekat dengan laki-laki lain karena memang ia sudah memiliki kekasih lain. Kejadian ini semakin membuat luka yang teramat dalam bagiku, orang yang aku percayai selama bertahun-tahun akhirnya juga menghianatiku dan meninggalkanku begitu saja. Tentunya setelah aku mengetahui jika ia benar-benar selingkuh, saat itu aku masih diam dan belum ingin bicara dengannya di telepon karena aku hanya ingin menunggu saat yang tepat untuk bertemu dengannya kembali dan bertatap muka langsung.
Aku dilanda kerapuhan yang amat mendalam, aku merasa hilang kendali dengan diriku sendiri sehingga aku melakukan hal yang bukan mencerminkan diri sendiri. Iya aku menginstal aplikasi tinder, aku mulai mencari cowok semata-mata hanya untuk mendapatkan kencan buta agar aku bisa melampiaskan kesakitanku dan melupakan apa yang sudah kekasihku lakukan padaku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan laki-laki yang aku temui di tinder, entah dia seorang Indonesia atau bukan WNI, yang aku lihat hanya dia asik untuk diajak ngedate dan aku pun akan pergi jalan dengan mereka.
Hingga pada bulan Agustus 2019 aku kembali lagi ke Bali dikarenakan aku harus pulang ke Jawa untuk menghadiri pemakanan nenek. Belum habis masa duka setelah kepergian nenek, aku sudah harus menerima pukulan yang keras dan harus menerima kenyataan yang pahit. Iya, aku bertemu dengannya pada 5 Agustus 2019, entah mengapa sebelum mengeluarkan kalimat dari mulutku, mataku sudah berlinang meneteskan air mata saat bertemu dengannya. Seraya dia langsung memelukku, sama seperti pada tahun 2017 lalu ketika dia ketahuan memakai aplikasi-aplikasi sampah di hpnya. Aku segera melepas pelukannya dan mulai meminta dia untuk bicara. Sepuluh menit berlalu hingga ia pun mengeluarkan sepatah kalimat, “Ovi, sekarang terserah kamu, mau anggap aku teman atau apa yang pasti kita telah lalui berbagai hal yang indah bersama”. Pada saat itu aku benar-benar menangis untuk terakhir kalinya untuknya sembari mengucap kalimat “Aku akan pergi dari hidupmu, terimakasih untuk semua hal yang telah kamu ajarkan kepadaku, aku tidak bisa memaksa kamu untuk memilihku dan tetap bersamaku, aku tidak akan pernah benci denganmu”, aku pun memeluknya untuk terakhir kali lalu aku beranjak pergi meninggalkannya.
Hingga saat menyelesaikan tulisan ini, aku tidak pernah bertemu denganya lagi, meski sekarang aku sudah kembali tinggal di Bali. Kami juga tidak pernah chat untuk sekedar menanyakan kabar kami masing-masing dan jujur sampai saat ini aku sedang healing my self dan mencoba untuk moving on. Sungguh yang benar-benar indah sangat sulit untuk dilupakan. Sampai saat ini, aku masih belum bisa memulai hubungan dengan lelaki lain, meski untuk sakit hati itu sudah biasa terjadi namun sakit kali ini terasa beda rasanya. Entah untuk saat ini aku mungkin sudah mati rasa. 6 tahun ujungnya ambyar juga.
Denpasar, Februari 2020


