cerpen,  Realita Hidup

Bosan

SEBAGAI manusia yang menjalani kehidupan bersosial, melakukan rutinitas setiap hari, dan memiliki tanggung jawab atas dirinya masing-masing adalah prilaku manusia normal yang dibawa dari awal mereka bisa berpikir dengan pola pemikirannya sendiri. Namun pernah tidak jika kalian merasakan sebuah kebosanan saat menjalani kehidupan? Pastinya semua orang pernah mengalami rasa “bosan” kepada hal-hal yang mereka jumpai setiap hari. Suatu ketika ada seorang teman lama yang sekedar menanyakan kabar lewat pesan di facebook “Hai Ovi apa kabar? Aku lihat kamu banyak melakukan trip terus, apa kamu tidak bosan dengan hidupmu? Apa kamu tidak ingin menikah?” sungguh pertanyaan yang begitu menonjok diriku pada saat itu. Lantas aku tidak membalas pesannya dan hanya berguman sendiri di depan layar smartphone “Memang kenapa kalau aku banyak menghabiskan waktu untuk jalan sendiri? Dan kalau aku menikah, memang aku bisa dapat garansi tidak akan memiliki rasa bosan ketika menjadi seorang ibu rumah tangga? Bukankah ini hakku ingin melakukan apapun dalam hidup selagi aku tidak memiliki ikatan waktu dengan orang lain. Tidak hanya itu saja, begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang datang dari orang-orang terdekatku mengenai bosan, seperti “Ovi kamu tidak bosan merantau terus? Tidak mau pulang dan mengerjakan sesuatu yang berguna di kampung?”. Dari segelintir pertanyaan itu yang membuat aku ingin menulis ini dikarenakan aku menganggap bahwa orang-orang terlalu sering memakai kata “bosan” untuk dijadikan pertanyaan menjebak yang mana padahal kalau bosan ini pasti terjadi juga kepada mereka meski dengan konteks kebosanan yang berbeda-beda.

            Bagiku bosan adalah sebuah keniscayaan yang sebenarnya orang-orang tidak perlu menanyakan tentang keberadaanya apa, kenapa, mengapa, dimana, dan bagaimana bosan itu? Mungkin juga orang-orang terdekatku menanyakan hal-hal mengenai bosan seperti itu lantaran mereka peduli dengan aku. Jadi mari kita melihat bosan dari segi cara mengatasi kebosanan itu sendiri. Tentu saja setiap orang memiliki cara sendiri untuk mengatasi kebosan yang melanda dirinya. Begitu juga denganku, aku tahu bagaimana mengatasi kebosanan dan kejenuhan dengan hal yang sedang aku kerjakan karena aku tahu bagaimana menyenangkan diri sendiri sehingga tidak merasakan kehadiran bosan dalam kehidupanku.

Saat kebosanan mulai melanda diri, aku akan melakukan hal yang bisa menghilangkan kebosanan tersebut. Seperti pergi ke salon untuk sekedar memasang bulu mata palsu, mewarnai jari kuku dengan kuteks yang aku suka. Selain itu juga saat aku sudah bosan dengan deadline dalam pekerjaan, aku akan meninggalkan pekerjaan itu dulu, lalu aku pergi keluar untuk sekedar nonton film di bioskop bareng teman, bermain gitar dengan bernyanyi sendiri, dan keliling mall meski tidak membeli sesuatu apapun. Ada kalanya aku jenuh seharian dengan rutinitas di tempat kerja dan sesampainya di kos, aku mulai memasak makanan yang ingin aku makan, karena memang memasak adalah hal yang paling aku suka saat waktu bosan melanda. Begitu banyak lagi kegiatan yang selalu aku lakukan saat bosan datang, seperti mengikuti kelas yoga dan muaythai, pergi jogging, dan pergi ke toko buku untuk sekedar menyari buku yang ingin aku jadikan referensi. Kadang tiba-tiba aku mengecek tiket pesawat dan jika ada harga yang murah aku langsung membelinya dan mulai melakukan perjalan ke tempat yang aku ingin tuju. Atau jika tubuh dan mental sudah memberi tanda tidak enak, aku akan pergi meditasi atau tidur seharian tanpa memperdulikan sekitar. Terkadang ketika aku sudah bosan dengan sosial media, aku tak segan-segan mematikan smartphone dan tidak menyentuh laptop seharian.

Pada saat menulis ini, aku menyadari kalau usiaku semakin bertambah, dan aku mulai bosan dengan hal-hal yang dulu sering aku lakukan pada masa menjadi anak kampus. Seperti pergi clubbing dengan teman, nongkrong hingga larut malam, dan membeli sesuatu yang tidak penting. Dan semakin kesini, aku menyimpulkan jika lingkaran pertemananku semakin kecil karena aku memang tidak ingin melakukan pergaulan seperti yang terjadi kehidupanku sebelumnya sehingga sekarang aku tidak memiliki banyak teman, begitupun temanku sekarang di Bali bisa dihitung dengan jari saja. Dan sekarang aku lebih memilih untuk menyenangkan diri dengan cara “me time”, mungkin aku adalah orang yang sudah dilanda kebosanan yang sangat akut sehingga saat ini aku lebih banyak mengabiskan waktu sendirian untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi diri sendiri.

Kita sebagai manusia biasa butuh mengistirahatkan diri sejenak dari kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Dan menemukan cara beristirahat itulah yang membedakan kualitas kemanusiaan kita. Mengambil teori dari Peter Berger, “Perilaku manusia itu tergantung kepada pengetahuannya” artinya semakin banyak pengalaman seseorang, maka semakin tinggi kualitas kemanusiaannya dalam berperilaku. Begitu juga akan semakin banyak memiliki cara untuk mengatasi kebosanan hidupnya. Lalu apakah teman-teman juga memiliki aktivitas lain di luar rutinitas kalian untuk mengatasi kebosanan anda sendiri? Aku begitu yakin jika semua yang membaca tulisan ini dapat mengatasi kebosanan dalam hidupnya masing-masing dengan sesuatu yang dapat membuat kalian bahagia tanpa menyakiti orang lain dan merusak diri kalian sendiri. Lalu apakah kalian masih ingin menanyakan kalimat bosan kepada orang lain?

 

 

                                                                        Denpasar, 20 Februari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *