cerpen,  Pelajaran Hidup

Anak Kos

KETIKA dulu belum aktif kuliah, yang mana aku masih menjadi kelas pekerja, hidupku sedikit nampak sempurna. Aku mendapatkan uang dari upah kerja dan jatah bulanan dari orang tua. Aku bisa makan dengan menu seenaknya dan melalukan berbagai entertainment yang bisa membawa hidupku biar nggak gampang stres selama di Bali. Namun semua berubah semenjak negara api menyerang.

Sejak menempuh perkuliahan pada semester tua telah dimulai, aku mulai resign dari tempat kerja lantaran ingin fokus untuk segera menyelesaikan skripsi. Sekarang biaya hidupku cuma disokong dari jatah kiriman orang tua setiap awal bulan. Hidup merantau jauh dari keluarga adalah momen yang sangat berat untuk dilakukan demi mendapat gelar sarjana. Selain jauh dari orang tua, aku juga tidak bisa lagi makan bareng sama keluarga apalagi nikmatin masakan rumahan. Setelah merasakan menjadi anak kos ternyata memang banyak rasa nggak enaknya, sampai rasa itu hilang hingga terlupakan (oke ini terlalu lebay). Setiap di bulan pertama menjadi anak kos, aku masih bisa tidur nyenyak dan menikmati cita rasa kuliner masakan yang ada di seputaran Bali, namun semua berbanding ke balik di akhir bulan. Iya musuh terkuat yang tidak bisa dikalahkan setiap bulan adalah ‘tanggal tua’. Mungkin bukan aku saja yang memiliki musuh monster tanggal tua, tapi setiap anak-anak kos yang tersebar di berbagai belahan dunia juga pasti memiliki musuh serupa itu. Aku tidak sendiri saat merasakan pilunya menjadi anak kos karena aku tinggal bareng room mate yang berasal dari satu daerah. Setelah aku hidup tiga bulan di Bali, temenku ikut menyusul ke sini dengan alasan dia ingin melanjutkan kuliah di Bali juga. Temenku ini kita berawal kenal waktu di Kampung Inggris,cewek berbadan tinggi dan berkulit putih. Aku memang sudah bertemen cukup lama dengannya dari tahun 2011 lalu.Hidup di perantuan seperti kota Denpasar ini membuat kami memiliki mental sekeras baja. Setidaknya pada saat tanggal tua aku memiliki temen yang sama-sama kekurangan gizi, karena jenis makanan yang disantap hanya mie instan. Memang tidak bisa dipungkiri beberapa masalah yang paling banyak dihadapi oleh anak kos terutama aku adalah soal “menu makanan’ dan “tanggal tua”. Ironis memang sebab hanya di awal-awal bulan anak kos seperti aku bisa makan enak dan bergizi, tetapi ketika tanggal tua mulai menghampiri, jangankan ingin makan empat sehat lima sempurna, perut bisa kemasukan nasi ama garam aja sudah bersyukur (ah ampe segitunya). Bukan menjadi rahasia umum dan sudah menjadi hal biasa ketika di tanggal tua isi dompet anak kos mulai kosong, usang, dan hanya dihiasi oleh kertas-kertas bekas penarikan uang di ATM.

*****

SUDAH tiga bulan ini aku pindah kos ke Denpasar. Lantaran, memang kosku sebelumnya begitu jauh dari kampus. Kosku sekarang terletak di Denpasar bagian Selatan yang dekat dengan pusat Pemerintahan. Bangunan kosku terlihat elit menjulang tinggi karena memang memiliki lantai tingkat empat. Tersedia juga balkon di lantai paling atas. Sekilas memang kosku berdesign layaknya apartemen. Namun bagiku sebagus apapun tempatnya kalau tidak ada jaringan Wi-Fi gratis juga percuma saja. Kamarku terletak di lantai tiga, jadi bisa dibayangkan kalau sudah kelaparan dan nggak banyak sisa tenaga untuk berjalan pada setiap anak tangga, hanya tersisa langkah-langkah kecil namum pasti, untuk sampai di kamar sudahlah aman. Dari awal Aku dan temenku kos di tempat ini. Kami memutuskan untuk membeli perlengkapan memasak supaya financial kami lebih terkontrol. Sebelumnya ketika pagi kami ingin minum kopi harus berlarian ke Circle K dulu untuk membeli satu cup kopi yang harganya jangan ditanya lagi lah. Belum juga saat jam makan kami selalu merogoh kocek di warung nasi campur, café yang ngejual makanan berharga tak manusiawi, dan kadang mencari berbagai tempat makan lain yang menurut kami masih terjangkau harganya. Terkadang aku berpikir bahwa kiriman orang tua masih belum cukup untuk menutup segala kebutuhan perut dan berbagai keperluan lain selama di Bali. Sejak kami memiliki satu set kompor gas, rice cooker, panci dan penggorengan, Kehidupan kami berubah drastis. Iya, kami sekarang menjadi anak kos yang rajin merebus air untuk sekedar bikin kopi atau teh setiap pagi, memasak mie instan, bahkan menggoreng telur mata sapi. Sepertinya apa yang kami masak masih jauh dikatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi pada tubuh kami. Ternyata bukan hanya sekedar ‘menu makanan’ saja yang menjadi masalah terbesar dalam menjalani hidup sebagai anak kos di tanggal tua. ‘Paket data’ juga jadi hambatan bagi anak kos yang berekonomi rendah seperti aku ini. Saat tugas kuliah menumpuk di tanggal tua, aku harus banyak-banyak mencari tempat yang menyediakan akses internet cepat dan gratis seperti di McDonals maupun café. Memang sih tempat nongkrong untuk mengerjakan tugas ini terkesan keren, tapi sebenernya demi mendapatkan akses internet gratis, aku dan temen-temen biasanya hanya membeli satu cone ice cream atau secangkir kopi dan kami pun siap mengerjakan tugas-tugas kampus hingga larut malam terkadang juga kami tidak membeli apa-apa namun dengan percaya diri langsung duduk di pojokan dan langsung membuka laptop masing-masing. Terkadang aku membeci hidupku sendiri ‘kenapa aku tidak terlahir dari keluarga yang kaya tujuh turunan. Namun aku langsung menampar pipi sendiri dan segera tersadar bahwa terkadang hidup memang harus ‘irit’ dan ‘hemat’ demi kelangsungan satu nyawa.

Gak peduli akhir bulan…

Gak peduli mie instan…

Berapa pun sisa uang yang penting ngampus tetep jalan.

Yah begitulah visi anak kos.

 

                                                                                                Denpasar, 28 Juni 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *