Inikah Rasanya PHK
SETELAH hampir lima bulan menjadi pengangguran akhirnya di awal 2017 aku mendapatkan panggilan untuk interview kerja pada bagian receptionis spa di salah satu hotel bintang lima di Bali. Tentunya hal ini membuat aku sedikit bahagia layaknya dedaunan yang mendapatkan embun di pagi hari. Wawancara pekerjaanku saat itu berjalan lancar dan minggu depan aku bisa mulai bekerja. Kala itu aku melamar pada bagian receptionis dengan kontrak dan gaji yang sudah jelas dibicarakan di awal dengan manager dan HRD yang memberikan interview alhasil selama tiga bulan aku masih menjadi pekerja berstatus ‘staff training’. Aku tidak permasalahkan dengan hal itu karena memang menjadi receptionis spa belum aku pahami sebelumnya meski dulunya aku sudah mengantongi pengalaman menjadi seorang receptionis di perusahaan lain pada saat pertama kali datang ke Bali. Menjadi receptionis spa di hotel bintang lima menuntut aku harus tersenyum, ramah, dan harus banyak bicara kepada calon customer yang datang ke spa tersebut.
Singkat cerita pada menjalani hari-hari menjadi pekerja baru di spa tersebut semua berjalan dengan baik, aku dapat berbaur dengan para karyawan lain, dan aku bisa melakukan pekerjaan itu dengan penuh tanggung jawab juga. Tentunya menjadi receptionis spa membuat aku harus mempelajari semua produk dan jasa yang ditawarkan dan hal ini memang membuat aku masih harus mempelajarinya. Setelah minggu ke empat datang, ada kejadian aneh pada saat itu terlebih dengan orang-orang yang memiliki posisi tinggi di tempat kerja seperti supervisor dan manager spa tersebut seakan mereka sedang mencari-cari kesalahanku pada hari itu. Pada pagi hari aku masuk kerja dengan wajah yang sumringah seakan hari tersebut tidak akan terjadi hal buruk yang menimpaku. Aku merapikan meja receptionis, menyiapkan buku tamu, dan mengecek komputer. Namun entah apa yang sudah aku perbuat karena selama aku bekerja, memang aku tidak pernah telat, selalu mengerjakan pekerjaan sesuai jobdesk, dan aku juga bisa melayani customer dengan baik. Tetapi ada yang berbeda dengan supervisor dan manager hari itu, mereka memasang muka masam kepadaku, aku tidak tahu mereka sedang PMS atau memang sengaja menaruh kesan ketidaksukaan seperti itu kepadaku, aku masih belum mengerti dan aku tetap melakukan pekerjaan seperti biasanya, kala itu Bali setelah tahun baru 2017 memang sedang low seasion (baca sesi bukan liburan) yang mana waktu untuk para pelancong kembali ke negaranya, maka bisa dipastikan penghuni hotel juga sepi dan mempengaruhi penurunan pendapatan di spa tersebut. Saat itu supervisor spa menegur aku dengan muka yang tidak enak “Ovi, kalau ada tamu lewat depan spa kamu harus segera sigap dan menawarkan brosur berisi menu-menu yang ada di spa kita” aku pun langsung mengiyakan dan melakukannya meski sebenarnya ini bukanlah tugas dari seorang resepsionis, namun aku tetap melakukan perintah tersebut. Aku berdiri di depan spa sembari membawa brosur sambil menunggu ada tamu lewat depan spa, tak hanya itu aku juga berjalan menuju area kolam hotel dan menghampiri para tamu yang sedang santai di pinggir kolam untuk sekedar menyodorkan brosur dan menawarkan paket spa. Hari itu bisa dikatakan sial untuk aku, karena tidak ada satupun pengunjung datang ke spa. Aku sudah melakukan yang terbaik dan berusaha untuk mencari tamu, namun memang ini di luar kendaliku, mungkin para tamu hanya ingin santai di kolam dan tidak ingin datang untuk mengambil pijat ataupun perawatan di spa.
Selanjutnya aku pulang ke rumah setelah selesai dengan pekerjaan seharian itu. Setelah makan malam, aku membuka laptop dan mendapati ada email masuk, email tersebut tak lain dari perusahaan spa bagian HRD tempatku bekerja. Isi email tersebut mengatakan bahwa aku tidak bisa melanjutkan kerja, tanpa dibumbui alasan yang jelas ditambah juga aku sudah bekerja hampir sebulan, aku belum mendapatkan hak karyawan seperti gaji yang pernah dibicarakan pada awal interview. Aku hanya mematung setelah membaca email tersebut. Seraya di kepalaku banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal. “Apa salahku? Tapi aku kan belum menghabiskan masa trainingku selama tiga bulan? Inikah rasanya PHK? Kenapa aku harus dipecat secara sepihak” Aku hanya bisa sedih pada saat itu dan yang bisa aku lakukan hanya menagis menjadi di kamar ditemani bantal dan guling. Masih teringang di benakku mengapa mereka memperlakukan ini kepadaku, mereka bisa saja memanggilku dan bicara layaknya seorang profesional kerja yang ada di perusahaan serta memberikan alasan yang tepat mengapa memintaku untuk berhenti bekerja, jika memang alasannya bisa diterima dengan akal sehat, aku siap untuk berhenti kerja dengan ihklas.
Aku tidak ingin kalut dengan email bodoh tersebut. Keesokan harinya, aku datang ke spa dengan memakai baju biasa, lalu aku menemui supervisor spa tersebut untuk mengembalikan seragam kerja, dan mengucapkan sepenggal kalimat “Terimakasih sudah memberikan rasa PHK ini kepada saya”, lantas aku beranjak meninggalkan tempat itu. Aku tidak menyangka di umurku yang baru menginjak 24 tahun sudah harus merasakan PHK secara sepihak sebelum selesai masa training, sungguh aku ingin menertawai diriku sendiri, kalau mau dibilang rapuh, aku rapuh dan sakit hati pada saat itu, namun aku tidak mau kalut dalam kesedihan, mungkin tempat itu bukan jalanku untuk mencari sesuap nasi di Bali, tanpa adanya pemutusan hubungan kerja itu juga mungkin aku tidak bisa menulis tulisan ini dan membaginya ke kalian, Mungkin juga rasa PHK ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para buruh lain yang sudah bertahun-tahun bekerja untuk menghidupi keluarganya lalu diPHK begitu saja. Buat kalian yang pernah merasakan PHK juga, tetap semangat karena pasti masih dan ada tempat kerja yang tahu jika kalian beharga.
Sampai menyelesainkan tulisan ini, temanku seorang youtuber dari Jordan datang ke Bali, kami berdua berpergian bersama untuk membuat video untuk konten YouTube channel kami masing-masing. Aku sudah memaafkan dan mengihklaskan perlakuan perusahaan itu kepadaku. Selanjutnya aku berhenti mengirim lamaran kerja di Bali dan memutuskan untuk pergi ke Kuala Lumpur.
Kuta, 15 Februari 2017


