Skripsi
SEBELUM memulai nulis bab ini, aku pengen ngucapin selamat atas kelulusan temen-temen, baik temen sekelas maupun temen KKN yang telah berhasil memakai toga tapi nggak ngajak-ngajak aku. HAPPY GRADUATION GUYS! tissue mana tissue? (waktu nulis ini aku lagi dilanda sakit hati). Hari Sabtu kemarin, aku mendatangi acara wisudanya temen-temenku yang kuliahnya kelar 3,5 tahun dengan alasan biar entar pas wisuda ganti mereka yang datang bawain bunga. Aih kenapa sih ritual kelulusan harus diiring-iringi dengan memberikan bunga dan benda yang harus didapat dengan merogoh kocek?
Sedikit nyesek sih ngeliat temen seangkatan wisuda duluan, mengingat kemarin kita udah menghabiskan waktu barsama dari daftar kuliah bareng, ospek bareng, masuk kelas bareng, ngerjain tugas yang jawabannya samaan, sampai kadang juga bolos bareng. Yeah, ditinggal wisuda temen seperjuangan itu seperti jadi binatang jalang dari kumpulan yang terbuang (emang nggak enak pokoknya). Sudah basi kalau aku start menulis tentang cerita skripsi. Tapi aku pikir pengalaman skripsi ini harus diabadikan karena memang rasanya itu luar biasa. Memang bener skripsi itu adalah sebuah cobaan akhir di masa-masa menjadi mahasiswa, dan dari sinilah aku belajar akan arti pentingnya kuliah, bukan semata-mata masuk kelas, ngerjain tugas, ujian, nyari gebetan, bayar spp, dan dapet nilai A. Aku sangat yakin jika para skripsier pasti memiliki cerita berbeda dan menarik yang bikin masa perjuangannya makin indah buat dikenang dan nggak bakal bisa ditukar dengan apa pun.
Ini sudah memasuki bulan April, bulan yang mana bakal membawa kehidupanku ke dunia tugas akhir dari kampus. Ya akhirnya aku bertemu juga dengan ‘skripsi’, dimulai dari pengumuman di kampus kalau aku sudah mendapatkan dosen pembimbing skripsi disingkat aja dosbing. Awalnya aku seneng banget karena nggak dapet dosbing yang killer kerena emang kedua dosbingku adalah dosen yang udah aku kenal sebelumnya dan mereka memiliki riwayat asik saat ngasih perkuliahan. Namun mendapatkan dosbing yang baik nggak menuntut kemungkinan kalau aku bakal terhindar dari kegalauan saat menghadapi skripsi karena ternyata para dosbing ini sebenernya adalah dosen yang suka gantungin perasaan mahasiswa yang ingin segera menuntaskan skripsi. Kesialan pun bermula saat aku membuat janji untuk bertemu dengan para dosbing. Aku meminta untuk bertemu dengan beliau melalui sms karena saat aku nyoba telepon mereka nggak pernah dijawab. Seminggu setelah sms itu dikirim, para dosbing baru saja membalas yang inti dari isinya sama“Tunggu satu minggu lagi, saya akan konfirmasi untuk bimbingan skripsi”. Menunggu sesuatu yang berkaitan dengan hidup dan mati menjadi seorang mahasiswi semester tua itu sangatlah tidak enak. Bayangin saja, sebagian dari temen-temenku yang lagi menghadapi skripsi, mereka sudah pada nyusun Bab 1, lha aku boro-boro Bab 1, ngumpulin referensi dan buku di perpustakaan saja belum. Hampir dua minggu lebih aku dapet php dari dosbing hingga pada akhirnya aku pun dapat bertemu dengan satu dosbing pertama yang mana beliau adalah seorang Ibu muda yang merangkap jadi anak rektor kampus. Waktu itu aku pernah denger cerita dari temen yang pernah ikut bimbingan dengan beliau kalau dosen tersebut pernah nggak lulusin mahasiswa yang dibimbingnya. Sempet bikin down sih setelah denger cerita itu tapi aku tetep positif thinking, pasti dosen itu nggak lulusin mahasiswanya karena ada alasan tertentu seperti dia jarang ikut bimbingan atau mungkin juga dia malas ngerjain skripsi.
Dua minggu digantungin nggak bikin semangatku sebagai mahasiswa memudar begitu saja. Pertemuan pertama dengan beliau saat itu aku nggak sendiri karena ada beberapa mahasiswa lain yang barengan bimbingan disuruh bikin soal untuk pre-test pertama karena emang aku kuliah di FKIP Bahasa Inggris jadi pekerjaan utama kami pun hanya diminta untuk membuat soal ujian pertama untuk siswa. Pembuatan pre-test beserta post-test ini adalah tugas yang begitu mudah bagiku. Selanjutnya dosbing meminta kami untuk memulai menyusun Bab 1. Inilah awal dimana semangatku begitu mengebu-gebu, yang aku inginkan sekarang hanya cepet keluar dari beban skripsi. Seminggu kemudian aku datang ke kampus sambil membawa map berisi Bab 1 yang telah aku buat beserta soal-soal yang akan aku jadikan penelitian. Ada perasaan bangga ketika aku membawa map, duduk menanti di kursi depan ruang dosbing dan bila ada temen yang nanya “lagi ngapain Vi?”, aku bakalan jawab “mau bimbingan nih haha” sambil menyombongkan diri. Namun kebanggaanku nggak bertahan lama karena setelah menyodorkan map ke dosbing, beliau langsung seenak tangannya coret-coret pakai spidol merah ke lembar demi lembar Bab 1 yang sudah susah payah aku buat. Di pertemuan pertama beliau mengatakan bahwa aku masih belum fokus dengan grammar, outline berantakan dan masih banyak alasan yang bikin aku lupa karena beliau begitu cepat saat berbicara. Aku masih bisa terima dan iya-iya aja sama semua perkataan dari beliau. “Seminggu lagi temui saya di tempat dan waktu yang sama, jangan lupa bawa Bab 1 yang sudah direvisi” katanya menutup pertemuan kami saat itu. Mukaku kusut seketika, aku membuka setiap lembar yang udah dosbing coreti, dan aku pun membaca ulang mencari kesalahan Bab 1 jahanam itu sampai mata pedas.
Memanglah benar jika menjadi mahasiswa yang mengerjakan skripsi itu sangatlah tidak enak hingga menimbulkan rasa-rasa yang meliputi:
- Eneg ngelihat buku di perpustakaan.
Di akhir semester inilah aku jadi mahasiswa yang keranjingan keluar masuk perpus kampus karena emang sebelumnya aku jarang sekali masuk perpus karena memang koleksi buku-bukunya tidak lengkap dan nggak ada cowok cakep yang bisa dikecengin disana (hasyah). Oke, di momen pengerjaan tugas akhir ini aku banyak banget mencari referensi, jurnal skripsi alumni, dan beberapa buku yang bisa membantu aku dalam penulisan skripsi. Yang pasti tiap hari aku eneg banget lihatin rak yang bertumpuk-tumpuk buku.
- Bosen lihat laptop.
Sejak nyekripsi aku harus banyakin nyari bahan materi tambahan di internet namun apa daya kalau paket internet habis dan harus nyari café yang nyediain wifi kenceng. Ujungnya juga harus merogoh kocek. Walaupun berakhir untuk download lagu dan buka youtube. Tiga jam kemudian aku baru sadar malah nyari hiburan bukan cari bahan buat skripsi dan akhirnya aku bosen sama laptop lalu shut down.
- Dompet menipis.
Print, kertas, dan tinta. Entah ada berapa ratus lembar udah keluar dari printer. Sekalinya dilihat dosen cuma lima menit, kertas udah dipenuhi coretan merah besar dan melintang X. Sakitnya nggak cuma kerasa di dompet tapi juga sakit di dada.
- Kering nungguin dosen.
Dosen sudah ngajak janjian jam 11 tapi berjam-jam kemudian baru nongol dengan muka sinis dan kecut. Aku sebagai mahasiswa harus tetep pasang muka senyum meski hati mendokol, karena Dosen adalah Dewa.
- Kurang tidur.
Pinginnya sih cepet revisi skripsi yang sudah dicoretin dosen pada siang hari tapi apa daya kemalasan merajalela dan ide baru muncul di kala malam. Alhasil kantung mataku semakin melebar seperti anak panda yang terpisah dengan induknya.
- Terjebak di segitiga Bermuda antara skripsi – dosbing 1 – dosbing 2
Ini adalah kejadian lebih buruk dari pada kejadian ditinggal mantan nikah duluan. Aku sudah nyoba nyusun skripsi dengan baik dan benar tapi dosen malah memberi arahan berbanding kebalik. Belum lagi kalau dosen pembimbingnya ada dua. Siap-siap aja jadi bola pimpong yang takdirnya dioper sana-sini, mati sajalah.
Masuk di masa skripsi menjadi point of my loneliness. Rasanya temen yang dulu pernah ngajak nongkrong mendadak menghilang. Ada yang sibuk skripsi, ada yang masih ngejar sks yang tertinggal, dan ada yang sudah lulus duluan. Nelangsa banget hidup ini.
- Emosi nggak stabil.
Pada dasarnya menjadi mahasiswa skripsi dapat dibilang kembali menjadi ABG yang labil pula. Apalagi kalau mendengar pertanyaan dari temen lain “Sudah sampai bab berapa yang di acc?” Helloo! Please deh nggak usah ditanya kaya’ begituan juga. Ya maklum aja dong kalau aku jadi suka marah, diem, ketawa histeris, dan ngurung diri di kamar kos. Semua aku lakoni agar skripi ini menjadi sweet bukan shit. Jadi mohon permakluman dari kalian jangan sesekali memberikan pertanyaan seputar skripsi yang sedang aku kerjakan.
Sempet terlintas untuk lompat dari lantai empat bangunan kosanku dan sempet mau nyantet kedua dosbingku biar nggak seenaknya nyoret-nyoret skripsiku. Tapi segera tersadar kalau aku harus tetep nyelesein skripsi ini. Di bulan Mei aku beneran fokus dan bertekad untuk mengerjakan tugas akhir dari pada menyerah duluan. Aku memeluk satu bendel kertas berisi bab 1 sampai tiga yang sudah aku revisi yang siap untuk dikumpulkan besok. Dari skripsi ini aku belajar arti dari sebuah proses. Buat temen-temen yang lagi ngerjain skripsi jangan patah semangat ya, kita pasti bisa. Tunjukan pada dunia bahwa kita bisa melempar toga nantinya J
Denpasar, April 2016


