Bukan Anak Broken Home
Menjadi bagian dari seorang anak pertama pada keluarga yang biasa-biasa dalam segi ekonomi di kehidupan sosial Indonesia adalah hal yang nampak normal. Walau begitu masa kecilku bisa dikatakan indah meski tidak terlahir dari keluarga konglomerat. Semasa kecilku selalu berpindah dari satu kota ke kota lain mengikuti kedua orang tua yang sering merantau bahkan saat kecil, keluargaku pernah tinggal di bantaran Sungai Ciliwung adalah hal yang bisa aku ceritakan kepada orang-orang yang membaca buku ini. Iya kedua orang tuaku bertemu di Jakarta sekitar tahun 1990an sebelum akhirnya mereka berdua menikah lalu mama melahirkanku. Singkat cerita orang tuaku memiliki latar belakang kepercayaan yang berbeda, tentunya sebagai orang yang lahir di Indonesia tahu, jika berbeda agama tidak dapat menikah namun entah bagaimana mereka dapat menyakinkan kedua belah pihak keluarga yang berlatar belakang agama berbeda serta dapat menerima perbedaan dan mendapat buku nikah resmi dari negara. Sebagai anak hasil dari latar belakang beda agama membuat semasa kecil aku banyak didoktrin untuk mengikuti kepercayaan dari mama karena memang di keluarga mamalah yang paling dominan untuk menyuruh anaknya harus mengikuti kepercayaan yang sama. Hingga akhirnya aku bukan satu-satunya anak dari orang tua yang memiliki latar belakang kepercayaan yang berbeda, setelah aku berusia enam tahun lahirlah adik perempuannku yang mana tentunya dia juga akan memiliki kesamaan dalam menghadapi hidup dalam urusan kepercayaan.
Setelah orang tuaku lelah merantau, mereka memantapkan pilihan untuk kembali ke kota dimana papa berasal, mereka membuka usaha dan akupu mulai masuk sekolah dasar ditambah dengan adik perempuanku yang masih bayi. Hidup kami berempat saat itu masih terbilang baik-baik saja, orang tuaku masih bisa membelikan susu formula untuk adikku dan aku masih bisa makan apa saja yang ingin aku makan. Hingga akhirnya saat aku duduk di bangku kelas tiga SD yang mana, aku masih ingat betul waktu itu aku baru bisa menghitung perkalian dan pembagian dasar bersamaan dengan itu juga mama mendaftarkan diri untuk menjadi bagian dari Tenaga Kerja Indonesia yang akan bekerja ke luar negeri. Saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti mengapa mama tega ninggalin aku serta adik perempuanku yang masih balita untuk bekerja ke tempat yang jauh. Entah alasan finansial keluarga atau memang saat itu sedang trend karena memang banyak dari tetangga-tetangga kami terutama para Ibu-ibunya bekerja di luar negeri. Tentunya naluri seorang Ibu tetap berat hati meninggalkan kami sendiri yang masih terbilang kecil, alhasil kedua orang tuaku memutuskan untuk mencari pengasuh untuk adik dan mengurus keperluan kehidupan kami berdua yang masih kecil. Kepergian mama saat itu membuat aku sedih, aku sedih karena harus melihat adik perempuan yang masih bayi tidak mendapatkan belaian kasih sayang dari mama meski aku dan adik masih punya orang tua lain yakni papa namun rasa kasih sayang seorang Ibu akan berbeda rasanya, pasti kalian tahulah bagaimana rasanya.
Sejak keberangkatan mama ke luar negeri seketika itu juga kehidupanku berubah, layaknya mentari yang tertutup oleh sekelebat awan hitam yang membuat dunia menjadi gelap dan aku merasa saat itu tidak pernah lagi melihat matahari terbit dari ujung timur. Hidup dengan pengasuh bukanlah hal yang menarik dan menyenangkan seperti kaum borju yang memiliki pengasuh untuk anak-anaknya. Berbeda dengan diriku saat itu aku mulai merasakan kekerasan fisik dan psikis yang mana membuat masa kecilku tidak senormal ketika aku masih bersama kedua orang tua. Jika disuruh memilih, aku lebih pilih kena omelan dan pukulan orang tua sendiri dari pada orang lain. Aku merasakan kehidupanku mulai tidak baik, aku coba memberi tahu papa namun pengasuhku selalu mengintimidasi yang menimbulkan ketakutan pada diri dan akhirnya aku hanya bisa diam menutupi segala hal yang tidak menyenangkan di dalam hidupku. Mungkin saat itu kesalahan datang dari orang tuaku karena mereka memilih seorang pengasuh yakni seorang Ibu tua yang banyak memiliki anak. Adikku terkadang tidur di rumah pengasuh itu sedangkan aku jarang sekali mau tidur di rumahnya dikarenakan aku tidak terbiasa tidur di rumah yang asing disertai banyak anggota keluarga yang tinggal. Tiga tahun aku lalui hidup bersama pengasuh, aku sudah duduk di bangku kelas enam SD sedangkan adikku mulai masuk TK, mama pulang ke kampung halaman, tentunya aku bahagia saat itu setelah tiga tahun merasakan masa kecil yang pilu. Kehidupanku tak kunjung berwarna meski mama sudah kembali ke rumah, usaha papa bangkrut karena banyak saingan, ekonomi keluarga tidak berubah meski mama telah bekerja di luar negeri selama tiga tahun. Hubungan orang tuaku tak seharmonis saat aku masih kecil di perantauan. Hingga pada akhirnya kecelakaan terjadi padaku, kakiku patah dan tidak bisa berjalan selama enam bulan, aku harus mendapatkan pelajaran sekolah di rumah yang mana temanku selalu datang di sore hari untuk berbagi semua ketertinggalan pelajaran yang selama itu aku tidak pernah terima di sekolah dasar. Tentunya papa banting setir untuk membuka usaha lain untuk menghidupi keluarga namun lagi-lagi usaha tersebut tidak dapat mencukupi kehidupan kami. Dari situ aku bisa melihat bahwa mama tidak terbiasa hidup susah. Waktu terus berlalu aku sudah bisa kembali berjalan dengan kedua kakiku tanpa bantuan alat bantu jalan, kehidupanku sedikit kembali normal. Dan lagi-lagi mama berinisiatif kembali bekerja ke luar negeri, adikku sudah bisa bicara dan sedikit mengerti tentang persoalan keluarga kami, hingga pada selanjutnya kehidupan kami harus terpisah dengan orang tua. Papa pergi bekerja di Bali dan mama kembali ke Brunai, karena orang tuaku tidak percaya dengan pengasuh lagi maka aku dan adikku dititipkan kepada nenek dan kakek dari papa. Kehidupanku masih tidak menyenangkan, aku mulai masuk SMP dan adikku duduk di bangku SD sejak kecil kami tidak merasakan kasih sayang dari orang tua, hanya uang yang setiap bulan mereka kirim ke rekeningku dan bagi kami itu sudah mewakili kasih sayang mereka berikan kepada kami berdua. Disini aku tidak memikirkan kehidupanku dan adikku saja, melainkan memikirkan kedua orang tuaku yang jauh, tentunya hubungan orang tuaku juga tidak seharmonis dulu waktu kami masih di Jakarta, sekarang mereka jarang bertemu dan entah mereka sering berbicara di telepon atau tidak, aku tidak tahu. Aku beranjak remaja dan duduk di bangku SMA, aku mulai tidak peduli lagi dengan keluarga lantaran aku terlalu lama dan terbiasa sendiri tanpa orang tua.
Saat memasuki bangku SMA aku mulai mencari sesuatu untuk melarikan diri sementara dari problem keluarga yang aku hadapi. Aku mulai bergaul dengan anak-anak jalanan, pergi ke acara musik indie, dan dari sanalah aku mulai mengenal alkohol, rokok, dan beberapa hal yang seharusnya tidak dilihat oleh anak remaja perempuan sepertiku kala itu. Saat masa sekolah menengah atas, aku bisa dikatagorikan ke dalam murid yang teladan, tidak pernah bolos, selalu menjadi ketua kelas, dan selalu mematuhi peraturan-peraturan membosankan yang ada di sekolah. Aku cukup mengerti dengan hal ini jika sekolah itu sangat penting dan aku harus bertanggung jawab dengan hal itu. Aku masih mengingat orang tuaku yang sudah pergi jauh, mencari uang untuk aku bersekolah, hanya saja saat itu aku merasakan ruang kosong di hidup. Aku masih bergaul dengan anak jalanan, terkadang aku ikut pergi mengamen, meski sebenarnya aku memiliki uang saat itu, namun aku pikir mengamen bukanlah hal yang memalukan atau hal yang keji, bagiku saat itu mengamen adalah untuk membentuk karakter agar percaya diri saat di depan orang banyak. Entahlah aku masih remaja saat itu dan aku masih mencari jati diri. Aku mulai membeli rokok, mengkonsumsinya sejak usia 15 tahun, aku merokok saat berada di tongkrongan pinggir jalan, minum alkohol murahan juga pernah aku rasakan sampai akhir lulus SMA adalah puncak kenakalan remajaku. Iya, aku kabur dari rumah dan hidup bersama anak-anak jalanan di kota Malang dan Surabaya. Tentunya kabur dari rumah tanpa mengabari keluarga adalah tindakan nekat nan bodoh yang pernah aku lakukan saat remaja.
Selama hidup di jalanan aku banyak belajar bagaimana cara bertahan hidup, mengamen di lampu merah, aku jadikan pekerjaan saat bersama teman-teman di jalan. Rasanya saat itu aku tidak memiliki beban, tidak perlu lagi memikirkan keluarga dan adikku, yang aku pikir saat itu hanyalah aku merasakan kesenangan sesaat ketika berada di jalanan bersama teman-teman. Hingga suatu hari datang sutu masalah yang mana salah satu teman jalanan masuk penjara lantaran kasus penjualan narkoba, dari situ rasa takut mulai menyergap diriku. Gerombolan anak-anak jalanan yang menjadi temanku sudah menjadi incaran Polisi, dan aku harus harus segera mengambil pilihan antara bertahan di jalanan atau pulang ke rumah. Teman-temanku sudah pergi satu persatu entah mereka kemana yang pasti untuk menyelamatkan dirinya masing-masing, tinggallah aku sendiri, lantas aku memutuskan dan memberanikan diri untuk kembali pulang ke rumah saat itu dengan keadaan perawakanku yang kumel, jarang mandi, badan kurus, dan yang ada dipikiranku saat itu hanya semoga keluargaku masih bisa menerimaku.
Singkat cerita, aku pulang ke rumah dengan menumpangi kereta api dari Malang menuju Kediri, sesampainya di Kediri, aku mencari tumpangan orang yang menuju kampungku, iya aku masih ingat betul, aku mendapatkan tumpangan dari seorang bapak pengendara pick up yang sedang mengangkut pasir yang mana ia akan mengantarkan pasir dan satu jalur melewati jalan ke rumah. Sesampainya di rumah, perasaanku kembali kacau, aku tidak berani masuk rumah dari pintu depan karena aku tahu jika papa sudah menungguku di rumah. Akhirnya akupun masuk ke rumah lewat pintu belakang yang mana saat itu anjing-anjingku sudah berlarian menghampiriku, aku tahu jika hewan juga memiliki rasa rindu dengan orang yang disayang sama seperti manusia. Aku sudah di dalam rumah namun aku belum melihat sesosok papa, yang aku lihat hanya adikku yang langsung menyergapku dengan meminta uang jajan. Aku langsung masuk ke kamar dan menguncinya, sungguh aku takut sekali dengan papa, aku takut dipukul dan dimarahi besar. Sepuluh menit berlalu, ada suara ketukan pintu dari luar dan aku semakin was-was jika itu adalah papa dan ternyata benar, papa yang mengetuk pintu kamar. “Nak, keluar cepat mandi dan makan, papa sudah masak sayur soup dan ayam kecap makanan kesukaanmu” ucap papa dari depan pintu kamarku, aku merasa suara papa begitu menenangkan dan ramah, tidak seperti yang aku kira sebelumnya. Aku memberanikan diri keluar kamar menuju kamar mandi, membersihkan diri dan langsung mengambil makan banyak, maklum aku jarang makan enak semenjak hidup di jalanan, aku juga jarang sekali makan sepiring sendirian karena setiap beli makan satu nasi bungkus, aku selalu makanannya beramai-ramai dengan teman-teman di jalanan. Malam itu suasana di rumah begitu sepi, aku dan adikku menonton tv untuk membunuh kesunyian di rumah, tak lama kemudian papa duduk di depanku sambil bertanya, “kamu mau jadi apa? Apa yang mau kamu lakukan?” saat itu aku hanya terdiam, lalu papa berbicara lagi “besok papa belikan kamu pewarna rambut kembalikan rambutmu seperti sebelumnya”. Seketika itu aku hanya dapat membalas, “Iya Pa”. Malam itu menjadi malam yang istimewa bagiku setelah hampir lima bulan aku meninggalkan rumah. Aku melanjutkan hidup layaknya anak remaja lainnya, meski papa saat itu sudah tidak bekerja di luar kota lagi dan mama masih di luar negeri, namun aku merasa jika hidup aku cukup membaik.
Dari kisah ini aku mendapat sebuah pelajaran, jika aku bukanlah anak broken home, meski di luar sana begitu banyak kisah mengenai anak-anak broken home namun aku yakin jika anak-anak yang memiliki problem keluarga, jika mereka mau mempelajari dan memahami keadaan serta masalah keluarga yang tengah dihadapi dan segera mencari jalan untuk mengatasi problem di keluarganya, aku begitu percaya mereka tidak akan menjadi anak broken home atau anak korban dari keluarga yang tidak harmonis. Apapun yang terjadi, keluarga tetaplah menjadi nomor satu dalam hidup, aku menulis ini untuk semua teman-teman yang pernah mengalami masa kalut dengan keluarganya, mungkin kita memiliki kisah pilu mengenai kelurga kita masing-masing namun kita harus melihat jauh ke dalam lagi, siapa diri kita, dan dari mana asal kita jika tanpa orang tua kita. Aku sadar jika aku tidak bisa hidup tanpa mereka. Melakukan hal bodoh dalam hidup dengan cara melarikan diri dari keluarga adalah hal yang tidak etis, karena pada dasarnya aku sebagai anak harus banyak melakukan interaksi dengan berkomunikasi pada kedua orang tua meski dengan keadaan terpisahkan waktu dan jarak yang jauh. Dan aku begitu yakin jika orang tua kita sangat peduli dan sayang dengan anak-anaknya apapun yang terjadi.
Kediri, Agustus 2011


