Awal Mula Same Shit Different Way
SUATU kejadian yang tak diharapkan datang, mama berniat menjodohkanku dengan seorang duda yang mana doi lebih pantas dipanggil ‘Om’ ketimbang ‘Abang sayang’. Kala itu aku sedang berada di negeri seberang, suasana hatiku begitu kacau. Jujur saja, saat itu aku menangis menjadi di salah satu kamar hotel yang mama sewa untuk aku tempati sementara, selama aku mengunjungi negara itu. Aku merasa kedatanganku pada Mei 2017 ke negara dimana mama bekerja selama bertahun-tahun itu, hanya untuk menyambangi perempuan yang telah melahirkanku adalah rencana terburuk yang pernah aku rancang selama hidupku yang berjalan menuju 25 tahun. Aku menemukan chat mama dengan laki-laki yang menjemput aku di Bandara Bandar Seri Begawan tempo hari lalu. Dalam percakapan tersebut membahas mengenai subjek yakni aku, iya mama sengaja menyuruhku datang ke negara ini supaya aku bertemu dengan laki-laki yang mama inginkan untuk jadi pendamping hidupku. Tepat di pukul tiga pagi hari, mataku memerah dengan nafas masih terisak-isak. Satu hal yang hanya bisa aku lakukan saat itu adalah menelepon orang-orang terdekat yang peduli dengan hidupku dan deretan orang pertama yang aku telepon adalah papa, aku memberi kabar ke papa kalau mama mau jodohin anak perempuannya dengan duda. Respon papa kala itu tak banyak bicara mungkin beliau masih ngantuk lantaran waktu telepon di pagi buta, papa waktu itu hanya mengeluarkan kalimat “pulang nak”. Aku merasa papa nggak ngasih solusi yang pas buat masalah yang sedang aku hadapi kala itu. Akupun segera membuka skype mencoba menghubungi seorang yang aku sebut kekasih saat itu. Ini bukan pertama kalinya aku nelepon pacar sambil nangis, setelah aku ceritakan semua yang telah terjadi, respon pertama dari dia hanya tertawa lebar. Aku langsung usap air mata dan mencoba memberhentikan tawanya dari layar skype. Lalu selanjutnya aku menelepon temen dekat lewat whatsapp, cukup lama juga angkatnya tapi setelah aku coba beberapa kali akhirnya ia menjawab dengan suara yang begitu rendah, lantas aku langsung menumpahkan cerita fucking shit yang baru aku alami ke temen, seketika temenku yang semula menjawab dengan nada males malah jadi semangat buat ngetawain ceritaku. Hell Yeah! aku jadi kesel sudah nelepon orang-orang terdekat yang ada malah mereka nggak ngasih solusi, tapi ngetawain dan bikin aku tambah down. Jangan ditanya lagi, apa yang aku lakukan saat berada di negara yang sama sekali asing bagiku serta tidak ada orang yang aku kenal kecuali mama waktu itu. Lantas melarikan diri dari mama adalah hal yang cocok aku lakukan saat itu, iya aku kabur dari hotel dan mencari tumpangan tempat tinggal di rumah orang yang aku baru temui di tinder. Sungguh begitu drama memang, seorang anak perempuan kabur dari Ibunya sendiri lantaran ingin dijodohkan dengan lelaki bukan pilihannya. Saat menulis ini aku sambil tersenyum-senyum sendiri lantas mengelus dada, “untung aja cowok yang aku tumpangi itu baik orangnya”.
Masih segar di ingatanku, saat mama banyak menuntut hidupku harus seperti apa yang beliau inginkan. Menjadi wanita karir dengan gaji tetap, menikah dengan lelaki yang taat beribadah, dan menjadi ibu rumah tangga yang mana semua itu bagiku akan berujung kepada kehidupan yang membosankan dan monoton untuk anak seusiaku, ah aku memang belum siap untuk menikah. Aku juga nggak nyalahin mama punya niatan buat deketin aku dengan lelaki yang beliau anggap baik, ya untuk mama mungkin lelaki yang dianggapnya baik tapi tidak untuk aku. Aku bener-bener tahu semua yang udah mama lakukan karena beliau memang khawatir sama masa depanku, tapi kekhawatiran beliau bisa dikatagorikan ke dalam khawatir yang berlebihan dan nggak bisa aku terima sama otak kecil di belakang kepalaku. Tidak menutup kemungkinan jika aku ingin menikah dan aku ingin beranak pinak pada waktunya tiba nanti namun entah kapan.
Sepertinya menjadi seorang penulis saja belum cukup untuk membuat bangga mama, mungkin mama nggak begitu mengerti tentang profesi seperti itu. Aku sadar diri memang jadi penulis bukanlah pekerjaan yang banyak menghasilkan uang kecuali kalau hasil tulisannya jadi best seller lalu dibuat film, dan diundang jadi pembicara dimana-mana. Ya memang untuk sekarang aku belum seperti itu. Namun aku juga tidak ingin karyaku selalu dihitung menjadi angka nominal rupiah. Aku yakin kekhawatiran mama saat itu dikarenakan aku terlalu banyak menghabiskan waktu dan uang tabungan sendiri untuk berpergian keliling Asia ketimbang mencari pekerjaan tetap, namun aku tidak tahu apa yang beliau takutkan saat melihat anaknya yang sedang menjalani proses mempelajari tentang makna hidup dengan caranya sendiri.
Sejak nelurin buku pertama yakni novel “Selfie Di Sarang Bule” pada tahun 2015. Aku cukup lama fakum dalam dunia tulis menulis lantaran sibuk kuliah, kerja part time demi menyambung hidup di tempat rantau, ngabisin waktu buat pergi travelling, berpindah kota satu ke kota lain, dan menghabiskan waktu dua tahun untuk bekerja di Papua. Sebenernya sih nggak harus bikin alasan ini itu untuk berhenti menulis, aku masih terus menulis saat perasaanku sedang risau, aku cuma bisa nulis peristiwa apa yang sedang aku alami, lalu terkadang aku share ke facebook untuk jadi sampah di beranda atau sekedar menulis di note hp. Aku sadar diri kalau aku bukan ilmuwan yang mampu menulis penemuan dari hasil penilitiannya. Kok ya ilmuwan, nulis skripsi S1 aja udah kelabakan. Aku juga sangat jauh dikatakan seniman yang pandai menulis cerpen atau novel yang indah, bahkan juga bukan penyair yang terkenal dengan puisinya. Ah entahlah hidup ini keras!
Hingga suatu hari saat aku melakukan Solo Travelling pertamaku menuju Bangkok di tahun 2015 lalu. Aku selalu mengeluarkan pertanyaan pada diriku sendiri tepat di sebelah jendela pesawat sambil memandangi awan-awan di langit dalam ianganku selalu penasaran dengan rentetan pertanyaan semacam, “Orang-orang seperti apa yang akan bertemu denganku nanti? peristiwa apa yang bakal terjadi di hidupku, lalu bagaimana aku akan menanggapinya?”. Dari pertanyaan inilah aku semakin tertantang untuk banyak melakukan perjalanan selama hidup ketimbang nikah muda dengan orang yang belum aku kenal, karena bagiku menikah bukan melulu soal dua insan namun juga menyatuka kedua belah pihak keluarga, dan aku memang belum siap untuk itu. Selain menikah, aku merasa ada hal yang lebih menarik yang harus aku abadikan lewat tulisan tentang hidupku. Aku yakin setiap orang memiliki jalan ceritanya sendiri, tapi bagiku alangkah bahagianya jika bisa berbagi cerita ke orang lain lewat tulisan ini. Dari balik sekilas kisah hidup yang ups and downs, aku banyak belajar dari setiap kisah yang sudah aku alami. Terkadang aku nyebut diriku sendiri sebagai “manusia jentaka atau manusia sial” karena memang itu yang sering terjadi, kesialan-kesialan yang selalu aku alami itu yang bikin aku jadi kuat dan berani untuk jalani kerasnya hidup di dunia ini, dan dari sini aku akan berbagi dengan kalian semua bagaimana untuk bertahan dan menghadapi kesialan itu.
Kuta, 28 Agustus 2017


