Cinta Rasa Tahi
INI adalah bulan ke lima aku menetap di Bali. Ada cowok yang lagi dekat sama aku semingguan ini, lumayan ganteng sih. Sekilas memang keren lantaran dia anak band indie, meskipun dia anak band yang belum begitu tenar seperti SID. Ya seenggaknya aku cukup bangga dengan prestasi yang aku dapetin kali ini, karena sudah ada cowok band yang mau deketin aku (maklum udah jomblo dua tahun ini). Aku kenal dengan dia di Kediri pada tahun 2011 lalu pada acara musik indie. Cowok itu memiliki perawakan tinggi dan berkulit terang tidak sepertiku yang memiliki kulit sawo kematangan. Kalau ngomongin soal muka jangan ditanya lagi, ia punya wajah layaknya bintang iklan produk pencuci muka. Dari sini aku mulai berimajinasi bakal ninggalin status jomblo yang cukup membuat hatiku berkarat ini. Imajinasi liar yang lebih pekat masuk ke dunia fantasi bersamanya. Kalau saja kami sudah jadian, pasti aku bakal diajak tour ke luar kota bareng bandnya dan seumpama kami sudah jadian lama, pasti aku bakal dibikinin single dan lagunya masuk ke 10 barisan musik yang sering diputer di playlist (Gobloknya memang aku hanya pandai berimajinasi yang belebihan). Tapi setidaknya khayalanku telah didukung oleh perjuangannya yang selama tiga hari ini selalu nganterin makan siang ke tempat kerjaku. Emang sih cuma sekedar nasi bungkus biasa, tapi kelihatan kalau dia itu peduli dengan perutku. Hari berganti hari, cuaca Bali tetap sama panasnya. Kami menginjak fase PDKT yang dimulai dari perangkat genggam masing-masing, berangkat dari chats di blackberry messenger, hingga teleponan sampai kuping panas sebelum tidur. Iya ini adalah style PDKT anak muda yang begitu biasa terjadi di berbagai kota di Indonesia. Dari sini perasaanku mulai muncul ‘benih-benih cinta monyet’, karena dia memang memiliki kharisma yang seolah memberiku kenyamanan dalam beberapa hari ini.
Hari yang aku tunggu untuk ngedate sama dia pun datang. Bertepatan pada malam minggu, cowok itu jemput aku buat ngajakin makan malam. Perasaanku malam itu begitu bahagia layaknya es campur yang telah dimasuki berbagai banyak buah dan susu kental ke dalam mangkuk. Aku tak henti-hentinya tersenyum saat ia bonceng dengan motor metiknya. Tanganku sedikit merangkul pinggangnya yang malam itu ia terlihat memakai jamper bermerk distro lokal. Tak hanya itu juga, aroma parfumnya begitu menyengat masuk ke lubang hidungku, sepertinya dia memakai Casablanca warna hitam, gumangku,
“Mau makan apa Vi?” tanyanya.
Aku masih belum menjawab sebab aku tidak ingin berkata ‘terserah’. Aku masih memikirkan makanan apa yang cocok kami santap di acara kencan pertama ini.
“Hai Vi kamu mau makan apa? Kok diem sih” ulangnya.
“Kita makan babi guling aja yuk?” jawabku ringan dengan nada manja.
“Oke boleh, kebetulan aku punya langganan rumah makan babi guling yang enak di Denpasar” Cetusnya.
Dia pun mengegas motornya lebih kencang dari sebelumnya, mencoba mendahului pengendara motor lain yang berjubel di jalanan. Tak selang waktu lama kami telah sampai di rumah makan yang dituju. Suasana rumah makan malam itu cukup ramai, namun dia begitu pandai untuk memilih meja yang berada tepat di pojok yang lumayan jauh dari keramaian orang-orang yang sedang makan bersama keluarga. Ia memperlakukanku layaknya ‘princes’, ia mengambilkan kursi untuk aku diduduki, mungkin ini hal biasa, tapi bagi cewek sepertiku terlalu berlebihan, sebab agenda makan malam bareng gebetan sebelumnya selalu di warung lesehan. Malam itu aku lihatin terus cowok yang berada di depanku. Cowok itu parasnya begitu enak untuk dipandang, senyum bibirnya yang tipis berwarna merah muda membuatku mendadak mabuk darat. Setelah jadwal makan malam kami kelar. Dia tidak langsung mengajakku pulang melainkan membawaku ke sebuah taman yang berada di tengah kota Denpasar. Keadaan taman begitu ramai, banyak keluarga yang mengajak anak-anaknya untuk datang kesini sekedar santai sambil membelikan anak mereka mainan yang dijual oleh pedagang asongan. Tak sedikit juga pasangan muda-mudi duduk mojok di sudut tempat yang gelap. Kami memarkir motor. Dia melepas helm, begitu juga aku. Seraya tangannya meraih tanganku, ia tak sungkan untuk menggandengku di depan puluhan pasang mata yang tumpah ruah di taman itu.
“kamu kok gandeng aku?” kataku.
“Iya Vi biar kamu nggak hilang” singkatnya.
Aku sedikit menundukkan kepala dengan tersenyum tersipu malu. Rupanya dia cukup pintar mengambil hati seorang cewek sepertiku. Kami masih bergandengan tangan hingga ia menemukan spot yang nyaman untuk kami duduki. Persis di sebelah pedagang yang menjual jagung rebus, jagung bakar, dan kacang rebus. Singkat cerita pada malam itu aku dan dia jadian, setelah kami berdua memakan jagung rebus di tengah taman kota di bawah sinar lampu merkuri.
Setelah jadian. Masih layaknya anak muda lain yang sedang pacaran, berbicara lewat hp, saling mengingatkan jam makan, dan mengucapkan selamat pagi ketika bangun tidur adalah hal yang tampak normal. Hanya ada sedikit yang berubah dengannya pada saat itu, dia tidak pernah lagi membawakan makan siang buat aku. Aku Aku masih berpikir positif meski ia tidak seperti sebelum jadian yang mana selalu rajin kirim makan siang. Mungkin ia sedang sibuk atau sedang nggak punya duit atau mungkin entahlah aku tidak ingin berprasangka buruk sama pacar baru saat itu. Hari berganti hari. Aku mengirim pesan singkat sebelum berangkat kerja, walau sekedar mengucapkan ‘selamat pagi’. Bagiku mengirim pesan seperti itu sebenarnya sangat tidak penting tetapi tetap aku lakukan agar terlihat kalau aku itu cewek yang peduli sama pacar. Di sela break time, aku meraih handphone yang aku taruh di loker sekedar untuk mengecek apakah ada balasan darinya, namun yang aku terima hanya sms dari operator untuk memasang RBT gratis lagu Ridho Rhoma. Aku tak ingin terhanyut emosi lantaran tak mendapat pesan balasan pesan dari pacar. Aku segera pergi ke kantin sebelah bersama temen kerja yang lain untuk menghajar rasa lapar dengan melampiaskan nafsu ke hidangan yang berada di balik kaca etalase warung.
Bencana pun hadir. Hari Jum’at dimana hari ke enam kami jadian. Dia masih belum juga membalas pesan yang aku kirim dua hari lalu. Aku coba meneleponnya berulang kali tapi nggak juga jawab, coba mengirim pesan lewat blackberry messenger tapi centang. Pikiranku sudah tak karuan, aku takut terjadi apa-apa dengannya. Aku mencoba mencari tahu kabarnya dengan cara bertanya ke temennya di facebook. Sore itu setelah pulang dari kerja, aku langsung membuka laptop, aku mulai mencari akun facebook miliknya, agar pencarian temen dekatnya terlihat jelas. Aku memandangi foto profilnya yang setengah badan sambil memegang bass yang sangat mengaggumkan. “Aku rindu dia” tuturku. Aku memulai dengan scroll timeline facebooknya karena aku memang jarang membuka facebooknya meski kami telah berteman cukup lama di facebook. Berharap melihat setengah lingkaran pelangi setelah hujan, namun yang aku dapati di profil facebooknya sore itu adalah mendung gelap hitam yang begitu pekat. Aku melihat foto cowok yang aku anggep pacar dirangkul oleh cewek lain, iya cewek itu berambut lurus seperti baru rebonding, matanya memakai softlens warna biru, mukanya begitu putih meski lehernya tak secerah mukanya ditambah caption “kesayanganku beserta emoticon love”. Foto tersebut baru diposting dua hari lalu bertepatan saat dia menghilang tak ada kabar sampai hari ini. Aku masih belum percaya dia menyelingkuhiku begitu saja. Lalu, belum habis air mataku turun, dia juga sedang online di facebook saling balas membalas komen di kolom foto laknat bersama cewek tersebut. Hidungku masih terisak, tanganku terpatung di atas keybord laptop. Cowok yang aku kagumi, orang yang memberiku kenyamanan hati beberapa hari ini, orang yang selalu indah saat dipandang ternyata hanya mampir masuk ke kehidupan untuk mempermainkan hati yang mudah rapuh ini. Jemariku bergerak cepat mengetik kalimat singkat di dinding profil facebooknya;
“TERIMAKASIH UNTUK CINTA RASA TAHI INI”.
Aku sempat ingin ikut komen di foto tersebut, namun akal sehatku masih berjalan. Aku membayangkan jika aku bertemu dan melakukan adegan berantem dengan cewek itu hanya untuk merebutkan seorang cowok macam dia. ‘Oh no way!’ aku segera menutup laptop. Aku membaringkan badan di atas kasur. Ku usap isakku yang masih sedu sedan. Dari kisah ini aku belajar ‘don’t judge a boy by face’. Iya mungkin kemarin aku terlena dengannya lantaran dia anak band. Aku terbius karena dia yang selalu mengantarkan makan siang ke tempat kerjaku, aku terhipnotis oleh senyum tipisnya, aku terbuai saat dia menggandeng tanganku, dan aku lengah saat dia berhasil mendapatkan cintaku di malam minggu lalu. Sakit memang menanggung cinta dengan ditemeni harapan yang cuman angan-angan dan mengejar cinta dengan ditemani impian yang hanya ada dalam khayalan. Dia cowok yang aku sukai dan aku percayai untuk memiliki cinta dalam hati justru malah mendua dan membiarkan aku menderita. (cukup sekian dan terimakasih atas cinta rasa tahi ini).
Ku tegapkan badanku menyender tembok. Ku raba dadaku yang masih sedikit sesak. Lantas, aku meminum air dalam botol kemasan. Bahwasanya hidup harus tetap berjalan seperti biasa tanpamu. Aku berdiri tegap di depan kaca lemari di dalam kamarku sambil menertawai diriku sendiri. “Mudah bilang sayang mudah juga pergi, cowok memang begitu”. J
Seminyak, Oktober 2012


