cerpen,  Sosmed

Instagram

Seiring berkembangnya teknologi dan banyak lahirnya generasi muda yang memiliki skill dalam bidang IT membuat semua kegiatan dunia beralih di depan layar pc dan gadget oleh manusia-manusia modern saat ini. Instagram adalah sebuah platform sosial media yang digunakan oleh hampir seluruh elemen anak muda di penjuru dunia. Dengan menyuguhkan barisan foto-foto yang dipost oleh pengguna akun instagram tentunya memudahkan orang-orang dari berbagai genre seperti photographer, public figure, blogger, dan traveler untuk menampilkan karya terbaik dari hasil jepretan kamera mereka. Tak dipungkiri sekarang sudah banyak lahir selebgram dan influencer dari Instagram betapa gilanya instagram ini. Sebagian orang bisa mencari uang secara instan lewat akun instagramnya masing-masing ditambah lagi instagram memperbarui tampilanya menjadi instagram bisnis yang mana memang dirancang untuk para penggerak bisnis online seperti olshop yang sekarang memang banyak mempromosikan kegiatan usahanya di instagram dari penjual baju, barang pecah belah, biro jasa perjalanan, dan masih banyak lagi. Selain diperuntukan untuk online business. Aku sendiri mulai menggunakan instagram pada pertengahan tahun 2015 tentunya sebagai pengguna instagram yang baru, follower menjadi pengaruh besar untuk setiap orang yang menggunakan layanan sosial media ini. Saat itu aku menggunakan instagram hanya untuk ikut-ikutan dikarenakan memang temanku sekampus sudah memakai instagram. Memang menyebalkan hidup di jaman sekarang, tak memungkiri aku menjadi generasi yang latah dan ikut-ikutan. Kembali kepada follower, aku juga pernah merasakan keresahan kembali seperti saat aku menggunakan facebook (baca bab Facebook), yang mana saat itu followerku masih sedikit hanya memiliki follower teman-teman dari kampus saja yang masih dapat dihitung dengan jari. Akupun berfikir bagaimana bisa orang-orang mendapatkan follower begitu cepat? Karena aku sering melihat foto-foto keren di akun instagram milik orang lain, dari sini aku mulai mengerti jika ingin follower banyak harus memposting foto yang bagus. Sampai akhirnya salah satu temanku yang aktif di instagram pernah bilang “kalau mau dapat follower kamu harus sering posting foto, tulis caption yang enak dibaca seperti quote, banyakin hastag yang lagi tranding dan follow akun-akun yang memotivasi kamu” dari sini aku mulai tahu jika instagram itu sedikit berbeda dengan facebook dan aku harus memberikan konten ke akun instagram, karena aku suka berpergian akhirnya aku mulai memposting foto tempat-tempat yang aku kunjungi selama melakukan perjalanan dan yeah aku memposting foto atau video yang menurut aku indah dan layak posting di instagram, setelah memposting foto tak lupa aku memberikan caption dan hastag. Tak hanya berhenti di situ, aku banyak follow para sebelgram dunia, artis, dan Instagram yang memiliki konten travelling. Memakai Instagram tak melulu soal posting foto dan caiption yang keren tapi kita juga dipaksa untuk mengikuti selera orang-orang yang hidup di Instagram, karena pada dasarnya foto yang bagus perlu diedit dahulu dan dibumbui filter yang menarik. Aku sendiri sampai saat ini sebelum memposting foto harus mengedit foto di aplikasi seperti editor photo seperti VSCO dan Lightroom, aku selalu ingin semua yang aku posting di Instagram terlihat perfect walau kenyataannya dibalik pengambilan foto atau video dalam perjalann tak sebagus dan seindah saat sudah diposting.

Selang dua tahun berjalan aku banyak melakukan traveling ke negara Asia dan tentunya aku juga banyak memposting foto dan video di akun Instagram yang sudah terhubung dengan facebook fanpage dan lagi-lagi aplikasi Instagram sudah diambil oleh pendiri facebook. Kembali kepada follower, waktu berjalan begitu cepat dan perlahan follower pun bertambah hingga mencapai 8000 lebih seiring begitu aktifnya aku menggunakan platform sosial media ini. Selain memposting foto atau video aku juga sering menggunakan fitur snapgram story, banyak akun dari luar negeri mengikuti aktivitasku di Instagram, sering aku mendapatkan Direct Message/ DM dari orang-orang untuk sekedar ingin berkenalan, mengucapkan bahwa mereka fans dan yang parah pernah adalah pesan dari akun orang arab yang ngajakin aku tidur, namun aku tidak pernah menanggapi DM dari mereka para stanger. Dengan bertambahnya followerku hingga 10 ribu lebih, aku semakin terlena dengan Instagram sampai aku layaknya orang yang ketagihan drug, sehari aku bisa memposting foto tiga kali pada pagi, siang, dan sebelum tidur tentunya tak cuma posting begitu saja aku harus memikirkan caption hampir sejam. Aku sadar aku sudah gila dengan Instagram, setiap hari bangun tidur aku langsung membuka hp lalu melihat berapa orang yang sudah like foto dan berapa orang yang follow aku. Ditambah lagi dengan melihat akun-akun Instagram milik influencer dan selebgram lain dan membuatku semakin addicted menggunakan Instagram. Hingga pada akhirnya di tahun 2019 aku memutuskan untuk mengurangi aktivitasku di Instagram, aku jarang memposting foto seperti pada tahun-tahun sebelumnya, aku mulai sadar bahwa apapun yang berlebihan itu tidak baik seperti juga halnya Instagram, aku menggunakan terlalu berlebihan dan kembali lagi bahwa platform Instagram hanya di dunia maya bukan dunia nyata. Kenyataan sekarang adalah, aku memiliki banyak follower namun aku masih merasakan kesendirian, realita hidupku tidak seindah pada foto-foto keren yang aku posting di Instagram. Rasanya aku ingin kembali ke tahun 1990 yang mana tidak ada sosial media.

Namun Instagram juga telah membantuku untuk bertemu dengan sahabat kecil semasa SMP yang sudah lama hilang kontak dan tidak tahu dimana dia tinggal. Pada Akhir Februari 2020, sahabatku ini menemukanku dari sebuah foto yang baru aku posting di Instagram. Sahabatku itu lantas follow dan dm aku serta menyampaikan pesan bahwa ia adalah teman sekelas yang waktu lulus SMP kita sudah hilang kontak. Aku pikir dia sudah lupa denganku dan ternyata ia juga memiliki kesamaan mencari aku dalam waktu kurang lebih hampir setahun untuk bertemu. Lalu apakah aku akan membenci Instagram? Jawabnya tidak, aku masih akan terus menggunakan Instagram untuk menemukan teman-teman baik yang lama tak jumpa.

 

                                                                        Denpasar, Februari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *