MASIH teringat kala itu aku duduk di bangku SMA kelas dua, saat dimana pertama kalinya aku bergabung meggunakan jejaring sosial facebook setelah media sosial yang pernah populer seperti friendster tidak bisa digunakan lagi, usut punya usut dari berita yang aku baca kalau friendster sudah gulung tikar karena kalah bersaing dengan facebook yang memiliki fitur lebih lengkap untuk digunakan dalam bergaul di sosial media. Ketika remaja aku belum begitu tahu tentang facebook, yang aku tahu saat itu facebook hanya digunakan untuk mencari teman, update status, dan mengunggah foto. Pernah sekali teman sekelasku yang sudah dua bulan bergabung ke facebook menanyakan tentang akun facebook milikku;
“Hey Ovi apa akun facebookmu biarku tambah pertemanan”,
Seketika itu juga aku begitu senang karena ada teman yang ingin menambahkan pertemanan di facebook, “ya, ini nama akunku” sambil mengejakan huruf yang merangkai nama lengkapku, waktu itu aku masih menggunakan nama samaran, aku memang sengaja membuat akun tidak menggunakan nama asli dengan alasan toh ini cuma dunia maya jadi nggak asli juga nggak ada yang marah. Temanku melanjutkan pertanyaan,
“sudah berapa banyak teman yang kamu punya di facebook?”, ini adalah sebuah pertanyaan yang bikin malu untuk dijawab karena saat itu aku baru memiliki sekitar 32 teman di facebook, yang mana jumlah tersebut terdiri dari 3 akun facebook dari keluarga, 10 akun dari teman di SD, SMP, dan SMA yang baru memakai facebook juga dan sisanya adalah akun dari orang-orang yang tidak dikenal. Setelah menjawab apa adanya dengan sedikit kikuk, temanku langsung menertawakanku sambil berkata “masa’ sih temen kamu cuma 30 orang aja di facebook”. Setelah obrolan tentang facebook berujung pada ketawa yang mengejek, akupun berjanji pada diri dalam seminggu ini harus mendapatkan 300 teman di facebook.
Pukul 13.30 siang bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran sekolah telah usai. Aku segera bergegas berjalan menuju warnet yang berada tepat di sebelah kosan, waktu itu aku memang bersekolah di kota yang tempatnya lumayan jauh dari rumah, orang tuaku memberikan alternatif untuk aku ngekos dari pada capek harus pulang pergi mengendarai motor atau naik angkutan kota ke sekolah setiap hari. Di warnet aku langsung mengambil paket dua jam dengan harga Rp. 3000. Setelah masuk ke google aku lantas bergegas membuka facebook dan segera menambahkan semua orang yang muncul di facebook baik orang yang aku kenal maupun tidak, memang waktu itu kebanyakan orang yang aku add adalah orang yang nggak aku kenal mulai dari yang namanya normal hingga nama-nama akun yang sulit dibaca. Saat itu aku nggak mikirin lagi siapa mereka yang aku pentingkan hanya ingin dapat temen banyak di facebook untuk menutupi gensi semata.
Sekarang hampir semua orang menggunakan facebook, sampai tetangga rumah yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, sopir, pembajak sawah, dan semua orang punya facebook, bocah-bocah kecil yang masih duduk di sekolah dasar sudah dibelikan smartphone oleh orang tuanya dan mereka juga menggunakan facebook dengan mempertua usiannya. Ah batinku kala itu sedikit risau dengan anak-anak kecil di daerahku, dulu waktu aku SD mainanku hanya lompat tali dan petak umpet bareng temen-temen namun sekarang anak-anak kecil hanya diam di rumah sambil menggerakkan jarinya di layar smartphone.
Memang facebook adalah jejaring sosial yang dirancang untuk menjalin pertemanan yang mulanya jauh jadi dekat karena kita dapat melihat apa yang sedang terjadi pada teman kita lewat postingan statusnya. Hampir semua aktifitas yang dilakukan di dunia nyata selalu diabadikan ke dalam facebook agar semua teman tahu apa yang sedang terjadi dan yang sedang mereka lakukan. Tak terkecuali aku, aku juga selalu memposting foto dari momen yang aku anggap jangan sampai terlupakan dalam hidup, aku memang pengguna aktif facebook kala itu, aku juga selalu memposting status yang sebenarnya memang hanya sampah seperti tulisan tidak penting, dan lain-lain. Tapi semakin kesini para pengguna facebook semakin “tak tahu diri”. Sering aku membaca status dari teman-teman facebook yang sebenarnya tak perlu dibagi seperti “Hari ini aku masak sayur kangkung, menggoreng ikan, dan membuat sambal tomat”, hallo sapa juga yang peduli kalau hari ini kamu masak begituan, ya mungkin bagi dia ingin mengundang temannya untuk makan di rumahnya atau sekedar pamer saja, tapi bagi aku itu adalah momen yang nggak penting banget. Masih banyak lagi orang-orang yang selalu memposting tulisan kasar dan nggak layak untuk dibaca, mengeluarkan keluh kesah hidupnya yang menyedihkan agar mendapat perhatian dengan komentar dari orang lain di facebook, upload gambar yang senonoh, dan yang lagi ngetrend sekarang adalah meyebarkan berita hoak yang nggak jelas asal usulnya. Dan yang aku nggak habis pikir adalah kenapa facebook menjadi seperti ini. Lambat laun aku muak dan risih setiap kali membuka beranda facebook yang isinya tulisan nggak jelas dengan gambar yang merusak mata.
Waktu berjalan cepat di tahun 2014, ruang lingkup pergaulanku semakin luas setiap orang yang aku kenal, selalu melanjutkan pertemanan di facebook tujuannya supaya tetap dapat menjalin hubungan meski tidak berjumpa lagi, hingga suatu ketika teman di facebookku sudah mencapai empat ribu lebih kebanyakan teman di facebook adalah teman yang tidak aku kenal yang aku dapatkan ketika aku sembarangan menambahkan pertemanan dan menerima pertemanan saat duduk di bangku SMA. Lambat laun aku sudah memakai facebook hampir tujuh tahun. Aku sadar jika sekarang aku harus mulai bijak untuk menggunakan akun facebook, karena saking canggihnya facebook, sudah banyak kejahatan serta criminal cyber seperti penculikan, pemerkosaan, perampokan, human trafficking, serta perselingkuhan, dan penyebaran foto/video porno terjadi dari facebook. Dari alasan itu aku lebih insecure dengan diriku dan akun facebook, yang mana mulanya aku mempublik akun dan setiap orang bisa melihat akunku meski belum berteman, aku merubah akun menjadi private bertujuan untuk mengamankan diri dari para penjahat di dunia maya, aku juga mengurangi pertemanan dan menghapus akun stranger dari teman-teman yang tidak aku kenal sehingga hanya menyisakan teman yang benar-benar aku kenal tak itu juga, aku serta merta tidak mengikuti beberapa temanku yang biasanya mereka memposting status atau foto yang kurang enak dibaca dan dilihat. Aku sadar jika dahulu, diriku memiliki gengsi yang begitu tinggi ketika tidak memiliki teman banyak di facebook, tapi untuk apa memiliki banyak teman yang tidak dikenal di facebook hanya untuk mengemis perhatian serta jempol dan komentar dari orang-orang yang belum tentu tulus peduli dengan kita.
Aku yakin jika facebook tidak akan ada matinya. Pemilik facebook Mark Zukeberg serta timnya juga semakin berkembang untuk membuat tampilan facebook memiliki fitur yang beraneka ragam dan facebook juga sudah banyak membatu kalangan pembisnis, tokoh publik dari pemerintahan serta dunia hiburan dan beberapa perusahaan besar untuk menjaring jangkauan di sosial dengan Facebook Fanpage namun aku sangat menyayangkan kenapa pengguna facebook semakin kesini tidak bijak menggunakannya. Apa kalian pernah mengalami kesamaan dengan aku yang juga muak dengan para pengguna facebook yang alay? Sejak saat menulis ini aku mulai menggunakan akun facebook dan facebook fanpage ku seperlunya saja. Mari kita kembali pada kehidupan yang saling menyapa semua orang dengan senyum keramahan di dunia nyata dan tidak menerus terpaku di depan layar smartphone masing-masing.
Denpasar, 15 Oktober 2015


