Dear Dosen-dosenku
SELAMA kuliah di Fakultas IKIP Bahasa Inggris, aku adalah mahasiswi yang nggak terkenal lantaran aku tidak pernah sama sekali ikut ke dalam organisasi-organisasi penting di kampus. Yeah, biasalah orang sibuk (hasyah), sebenernya sih males. Sebagai mahasiswa perantau, aku juga tidak terlalu over saat di kelas, intinya aku adalah mahasiswi yang biasa saja saat itu berbanding kebalik saat aku masih SD, SMP, dan SMA yang terkenal di berbagai organisasi dan selalu dipilih menjadi ketua kelas.
Memang benar jika dosen itu menjadi salah satu bagian penting dalam dunia perkuliahan. Tak bisa dibantah lagi, dosen sering kali menjadi momok menakutkan bagi para sebagian mahasiswa, khususnya mahasiswa dari luar pulau seperti aku ini. Kala itu aku sudah duduk di bangku semester tiga. Tak dipungkiri aku sudah bisa mengkategorikan tipe-tipe dosen yang selama kurang-lebih satu tahun mengajarku. Aku pun memiliki aksi jitu untuk menghadapi Dosen dengan berbagai tipe tersebut. Aksi jitu itu adalah sebagai berikut:
- Dosen killer
Menghabiskan jam kuliah -/+ 1,5 jam bersama Dosen Killer adalah hal yang begitu aku benci kedua setelah menyandang status jomblo. Saat makul bersama Dosen Killer, layaknya pasrah dimasukkan ke dalam kuwali berisi air mendidih. Di saat seperti itu yang bisa aku lakukan sebagai mahasiswi hanyalah pencintraan semata, duduk tegap di depan dengan buku catatan, sok fokus menyimak pelajaran yang sedang dibahas dan pura-pura ngerti ketika beliau menjelaskan materi. Poinnya, mengikuti kelas bersama Dosen seperti ini harus mematuhi semua peraturan-peraturan dari beliau dan rajin-rajin isi attendance list biar dapet nilai A.
- Dosen Masa Bodoh
Saat ketemu jam kuliah bersama Dosen Masa Bodoh bagiku adalah surga dunia ternikmat. Gimana nggak nikmat coba, Dosen Masa Bodoh ini hanya masuk tanpa basa-basi, ngasih fotocopian materi terus ngebahas sedikit materi berdurasi lima menit setelah itu semua mahasiswa disuruh bikin paragraf dan beliau asik baca koran. Saat itu yang aku dan temen-temen sekelas lakukan cuma asik duduk sambil ngobrol bisik-bisik, balesin bbm, dan tugaspun tinggal copas dari google (oke yang ini jangan dicontoh).
- Dosen Murah Nilai
Dosen tipe ini biasanya dijumpai pada saat makul yang tidak terlalu penting. Tak jauh berbeda dengan Dosen Masa Bodoh, beliau masuk hanya nyuruh mahasiswanya ngisi attendance list dan ngasih materi yang sekedar saja. Biasanya saat Dosen tipe ini masuk kelas, seketika merubah suasana kelas menjadi sedikit tidak kondusif karena Dosen ini membiarkan mahasiswa seenaknya. Aku selaku mahasiswi yang baik, masih menjaga tata krama yang orang tuaku selalu ajarkan (halah), seperti tetap duduk manis mendengarkan sang Dosen memberikan materi, sambil sesekali memandang layar HP, sambil scroll timeline facebook orang (lagi-lagi jangan dituru). Hal yang paling disukai dari Dosen Murah Nilai ini adalah jangan sampai absent dan nilai A akan nongol di Kartu Hasil Study.
- Dosen Pemberi Motivasi.
Entah kenapa aku selalu semangat kalau mengikuti kelas bareng Dosen tipe ini. Selain kelas menyenangkan, Dosen ini selalu memberikan motivasi yang benar-benar dibutuhkan oleh mahasiswa. Aku selalu duduk di depan saat Dosen Pemberi Motivasi ini mengajar. Sesekali mencatat kata-kata mutiara yang keluar dari mulut bak dewa yang sedang menyebarkan energi positif bagi hidup yang lebih baik. Aku begitu bersyukur memiliki Dosen seperti ini.
- Dosen Semau Jidatnya.
Bertemu di kelas bersama Dosen Semau Jidatnya adalah hal yang bisa dikatakan ‘senang-senang nyebelin’. Lantaran Dosen jenis ini biasanya jarang masuk tanpa ada kabar dan sekalinya masuk ke kelas beliau selalu memberikan tugas dadakan. Untuk menghadapi kelas bareng Dosen ini, biasanya aku sebelum masuk kuliah selalu tanya di grup chat kelas untuk memastikan kalau dosen akan mengajar atau tidak. Jadi sudah menjadi tanggung jawab korti kelas untuk selalu menjaga erat tali silaturahmi dengan Dosen Semau Jidatnya. Terkadang aku dan temen-temen sekelas pernah dibuat kesel sama Dosen tipe ini lantaran kami udah masuk kuliah tapi Dosen itu malah nggak masuk kan capek sudah jauh-jauh datang ke kampus, ngabisin bensin tapi Dosen malah nggak hadir.
- Dosen Ganteng/Cantik
Tak bisa dipungkiri, kehadiran Dosen yang memiliki paras ganteng atau cantik menjadi pemanis dalam kelas yang memiliki materi kuliah yang semakin rumit. Karena aku cewek, jadi aku cukup membahas Dosen Ganteng aja. Oke kemuculan Dosen Ganteng plus muda ini menjadi angin segar bagi mahasiswi jomblo seperti aku. Maklum cowok-cowok sekelasku nggak ada yang menarik jadi tak heran kedatangan beliau seperti oase di tengah gurun sahara. Saat mengikuti perkuliahan bersama Dosen Ganteng, aku selalu mengeluarkan celetukan sekedar membuat sensasi kecil untuk menarik perhatian sang dosen yang satu ini, terkadang aku mengacungkan tangan sekedar bertanya tentang materi yang belum aku ngerti sambil berharap beliau datang menghampiri dengan membawa seuntai bunga lily (ah ini berharap terlalu tinggi namanya).
Jadi sekian analisis bodoh dari seorang mahasiswi jomblo terhadap tipe-tipe dosen yang ada di kampus. Selanjutnya yang aku lakukan hanyalah melakukan kewajiban layaknya seorang pelajar terhormat.
*****
NILAI di semester tiga adalah nilai yang akan menentukan hidup dan matinya mahasiswa. Bak satu euforia yang membuat sebagian mahasiswa bisa melayang bebas ke angkasa tanpa bantuan pesawat, hebat. Sebab hasil IPK semester tiga yang tinggi bakal menetapkan mahasiswanya untuk mendapatkan tiket gratis mengambil kuliah lebih cepat. Iya mengambil kuliah S1 dengan waktu tiga setengah tahun hanya diperuntukan oleh mahasiswa yang memiliki IPK tinggi di kampusku, yaitu IPK dengan bilangan tiga koma sekian-sekian. Sedangkan aku saat itu tidak merasakan kemeriahan yang seperti temen-temen dapatkan. Ketika menghadapi shit happens seperti ini, psikisku hancur, aku kecewa, aku sakit hati teramat dalam melebihi sakit yang pernah dibuat oleh mantan-mantan pacarku dahulu. Mungkin saat itu aku melupakan satu kategori Dosen lain yang membuatku merasa ganjil setelah pembagian hasil IPK di semester tiga. Aku ngerasa nilai-nilai yang tersusun di dalamnya begitu aneh tapi nyata. Layaknya ketemu setan di siang bolong, nilai IPKku hanya berjumlah dua koma sekian. Saat itu pada waktu pembagian nilai, “bagaimana bisa?” kataku sambil meremat kertas berisi transkip nilai keparat selama belajar di semester satu hingga tiga. Sedangkan temen-temenku yang lain pada bersorak gembira. Terutama temen-temen cewek, mereka semua pada tertawa terpingkal-pingkal seraya memamerkan IPKnya ke temen lain. Aku marah kepada sekitar, aku marah kepada sang maha esa, dan aku marah kepada diriku sendiri. “IT’S NOT FAIR!” jeritku dalam hati. Setelah mengamati kertas bedebah itu, aku hanya bisa duduk tersapu diam di barisan bangku paling belakang. Seketika itu satu temen cewek menyapa “Hai Vi mana transkip nilaimu lihat donk?”, mukanya nampak berseri, aku bisa menerawang bahwa dia sedang gembira dengan hasil nilainya selama belajar di semester ini. Aku masih membisu tak menjawab sepatah kata. Di lain sisi kebencian mulai tertanam di dalam diri, aku berlagak layaknya pemeran antagonis dalam layar FTV. “Coba lihat punyamu” sahutku. Dia pun memberikan lembar nilainnya dengan penuh kebanggakan yang mengakibatkan kepalanya membesar seketika. Mataku terbelalak ketika melihat beberapa mata kuliah yang aku rasa, dia tidak pernah aktif tapi justru dapet nilai lebih dari pada aku. Aku masih ingat kemarin-kemarin saat ia ngomong bahasa Inggrisnya belepotan waktu presentasi di kelas, ngerjain tugas pun minta bantuan aku, dan belum lagi kalau pas ujian selalu ngerepotin aku dengan sejuta pertanyaan tapi kenapa harus dia yang dapet nilai lebih. “Dunia bener-bener nggak adil!” batinku. “Dia nggak pantes dapetin itu semua” gumamku sambil meneruskan sumpah serapah. Aku kembalikan lembar bedebah itu kepadanya. Sontak ia balik ingin melihat nilaiku. “Sorry nilaiku nggak penting untuk dilihatin” timpalku ke dia. Lalu ia pergi menjauh dan ikut bergabung pada kerumunan kepala-kepala besar yang memenuhi ruang kelas. Mungkin dia cukup tahu dengan body language ku saat itu. Iya ku yakin dia pasti tahu kalau nilaiku semacam cacing kremi yang nggak layak dipertontonkan. ‘Dosen Pilih Kasih’ cetusku sesaat duduk di kantin depan kampus. Setelah serangkaian euforia yang menggemparkan seisi kampus, setelah kekecewaan yang teramat dalam menyesaki paru-paru ku, dan setelah muncul dendam kesumat yang aku ciptakan oleh kemarahanku, aku menemukan satu lagi kategori dosen yang memang benar belum aku tulis di atas. ‘Dosen Pilih Kasih’. Ya, Dosen pilih kasihlah yang telah menjadi dalang di balik kesuksesan nilai-nilai dari sebagian temenku yang ngomong bahasa Inggrisnya berantakan. Walaupun sebagian temenku yang IPKnya diatas tiga, pada kenyataannya skill bahasa Inggrisnya masih acakadul, tapi mereka masih tergolong mahasiswa tenar di kampus lantaran mereka mengikuti beberapa organisasi dan mengenal hampir semua Dosen secara baik dan benar. Lebih jelas lagi, mereka memiliki kedekatan dengan Dosen yang ada sangkut pautnya dengan nilai mata kuliah. Dan semua ini membuat aku yakin bahwa Dosen Pilih Kasih memanglah ada keberadaanya. Hal ini sempat membuatku tidak nyaman. Aku nggak punya tempat buat mengadu karena aku hanya mahasiswa perantau. Mau lapor ke komnas HAM juga nggak mungkin, sebab aku bukan siapa-siapa disini. Aku tidak ingin bercekcok dengan orang-orang disini. Seketika itu aku memutuskan untuk menyikapi kesialan ini dengan kepala dingin. Aku masih ingat betul beberapa Dosen Pilih Kasih memperlakukan sebagian temenku yang rajin ikut organisasi maupun temenku yang memiliki paras cantik maupun ganteng dengan lebih baik ketimbang pada diriku yang hanya mahasiswi nggak jelas asal usulnya. Namun pastinya kedekatan itu bukan karena kedekatan khusus di luar kuliah, melainkan dekat karena kepentingan kuliah yang sifatnya biasa. “Ya diakui, jika Dosen begitu menyenangi mahasiswa yang paling unggul di kelas. Apalagi jika dia bisa menguasai materi yang diajarkan, bahkan bisa kritis membangun hingga memperluas pengetahuannya”. Tapi dari sekian temen yang aku anggap tidak pantas untuk mendapatkan nilai baik dalam beberapa mata kuliah, yang memang aku lihat mereka tidak begitu menguasai mata kuliah adalah suatu hal paling aneh yang tak ada habis pikirku untuk menerimanya. Aku menulis ini bukan karena dilanda kecemburuan sosial, melainkan aku hanya menuntut keadilan atas apa yang sudah terjadi. Aku siap bila diuji secara oral maupun tulis bareng mereka yang ngomong bahasa Inggrisnya masih belepotan. Tetapi sepertinya akan sia-sia saja karena peraturan kampus tetaplah peraturan. Menempuh kuliah S1 dengan waktu 3,5 tahun adalah impian dari semua mahasiswa yang bersekolah di perguruan tinggi khususnya di kampusku. Selain menempuh kuliah lebih cepat juga bisa mengurangi beban SPP setiap bulan. Saat itu aku nggak bisa berbuat apa-apa selain menerima kekalahanku dengan ihklas lahir batin, meski aku sekarang begitu butuh psikiater yang dapat mengobati sakit kejiwaanku ini. Aku akan menempuh kuliah S1 ku selama empat tahun, ketika temen-temenku telah memakai toga, aku baru akan menyusun skripsi. Sungguh sakit memang ketika harus mendatangi temen-temen yang telah menyandang gelar sarjana sekedar untuk mengucapkan selamat atas embel-embel gelar barunya sambil membawakan seikat bunga yang mahal harganya, memang sih waktu kami hanya berbeda enam bulan dalam menempuh Pendidikan. Namun hidup sebagai anak kampus harus tetap berjalan seperti biasa. Aku tidak mau memperlihatkan kekecewaan yang sudah tertanam hampir dua tahun belakangan ini. Aku kuat menerima Fuckin’ shit ini. Yang aku bisa lakukan saat ini adalah membuat surat terbuka kepaa para dosen-dosenku tercinta lewat tulisan berikut.
Dear Dosen-dosenku,
Mungkin anda-anda tidak begitu mengenal dekat akan sosok mahasiswi seperti saya ini. Iya, karena pada dasarnya saya cuma seorang pelajar perantau yang hanya ingin belajar di bangku kuliah yang ada di Bali, ingin menjalin pertemanan dengan pelajar-pelajar yang lainnya, dan ingin mendapatkan pengalaman hidup untuk kemajuan masa depan saya. Tapi setelah apa yang terjadi dengan saya, saya merasa terasingkan sebagai pelajar, minat belajar saya yang dulunya dipenuhi dengan kobaran semangat menjadi hilang seketika ketika melihat perlakuan berbeda anda terhadap teman sekelas saya yang memang saya anggap mereka lebih cantik dari saya. Tapi Please donk! Untuk para dosen-dosen yang saya hormati setengah mati, perlakukan mahasiswa perantau lebih adil lagi, karena sejatinya saya juga nggak pernah telat bayar administrasi kampus apalagi sampai nunggak SPP. Salam Please and love!
Denpasar, 16 Januari 2016


