cerpen,  Realita Hidup

Pertanyaan Kapan Nikah?

KAPAN nikah? adalah sebuah pertanyaan yang begitu lekat pada stigma sosial kita entah dimanapun daerah kita berada baik di kota maupun di desa. Tentunya pertanyaan ‘kapan nikah?’ juga menjadi pertanyaan klasik yang begitu menyebalkan ketika kita berada pada acara keluarga, kumpul bareng teman lama, dan acara nongkrong biasa. Pasti pertanyaan ini selalu dilontarkan oleh mereka yang sudah menikah kepada orang yang belum menikah, terkadang juga ada orang yang melontarkan pertaanyan demikian padahal dia sendiri belum juga menikah, ah jika aku mendapati ini, aku hanya ingin menertawai mereka. Entah mengapa pertanyaan itu menjadi populer di saat jaman semakin serba instan dan modern ini. Seolah tanpa beban, pertanyaan ‘kapan nikah?’ itu muncul hanya sekedar untuk basa-basi dalam mencairkan suasana di pertemuan, namun tanpa disadari dari kebasa-basian tersebut bisa sangat menyakitkan dan melecehkan kelompoknya sendiri. Dalam konsensus umum negara kita, perempuan akan dianggap “enggak laku atau terlalu selektif” ketika belum menikah di usia 28 tahun. Jika kalian berada di batas waktunya tiba, bersiaplah diberondong pertanyaan ‘kapan nikah’. Kadang aku tidak habis pikir kenapa orang-orang ini selalu memberikan pertanyaan itu untuk menyamaratakan jalan hidup orang sesuai standar kebahagiaan umum.

Sebenarnya, pertanyaan ‘kapan nikah’ tersebut bukanlah pertanyaan yang salah. Namun, yang salah itu adalah kita yang tidak mengetahui bagaimana reaksi orang saat mendengar pertanyaan itu. Kita tidak mengetahui apa yang sudah terjadi pada orang tersebut. Siapa yang tahu bahwa sebenarnya orang yang kalian tanyakan ‘kapan nikah’ tersebut sebelumnya sudah ingin menikah namun tidak jadi karena banyak alasan, atau sebenarnya dia sudah menunggu dan mencari calonnya namun memang belum bertemu dengan jodoh saja. Mungkin juga alasannya karena teman atau saudara kalian belum mau menikah punya alasannya sendiri. Begitu banyak alasan personal yang seharusnya tidak patut untuk dicampuri siapapun. Jadi, lebih baik tidak menanyakan ‘Kapan Nikah?’ daripada memberikan efek yang keliru.

Aku pernah menulis mengenai pernikahan (baca: Nikahan Mantan). Tidak bisa dipungkiri bahwa menikah memang menjadi salah satu hal yang harus digapai dalam hidup manusia untuk mendapat keturunan, membangun keluarga, dan hidup normal layaknya manusia bersosial lainnya. Lantas bukankan untuk sekedar mendapatkan keturunan bisa saja tanpa syarat harus menikah secara sah dan legal. Namun itu tidak berlaku bagi orang-orang yang tinggal di Indonesia, jika kalian ingin memiliki keturunan, kalian harus menikah secara agama dan negara. Lalu aku semakin melihat pada kehidupan sosial sekitarku, begitu banyak single parent yang pernah aku temui dan salah satunya adalah seorang teman yang aku kenal. Dia memiliki seorang anak, lantas dia hidup bahagia dan bisa mencukupi kebutuhan hidup bersama anaknya tanpa kehadiran sesosok suami atau bapak untuk anaknya. Ketika aku bertanya kepadanya “mengapa kamu tidak menikah dengan orang yang telah menghamilimu hingga membuatmu punya anak?” jawabnya pun begitu singkat “aku tidak ingin menikah”. Lantas aku berpikir keras saat itu juga sambil berguman dalam hati “hebat sekali, dia memiliki anak, dan bisa mencukupi semua kebutuhannya tanpa seorang suami”. Lalu aku melihat kembali kepada sekitar, begitu banyak masyarakat menganggap bahwa semua orang yang memiliki anak tanpa pernikahan, menjadi hal yang tabu sehingga masyarakat mencap buruk tanpa mengetahui sendiri mengapa mereka yang tidak memiliki jalan hidup yang terlihat tidak normal seperti masyarakat lain yang menikah selalu diberikan label bobrok. Mereka para orang tua yang memiliki anak tanpa status pernikahan selalu dianggap buruk dan dianggap tidak baik oleh masyarakat. Selebihnya juga masyarakat selalu mengganggap bahwa mereka adalah orang yang tidak baik, orang yang gagal, orang yang tidak benar, dan masih banyak lagi anggapan negatif yang dilontarkan oleh masyarakat kepada orang-orang yang memilih jalan hidupnya untuk tidak menikah.

Konsensus sosial kita membentuk standar kebahagiaan yang berbeda bagi perempuan. Mereka dituntut menikah cepat dan punya anak untuk bisa dapat predikat ‘bahagia’. Pertanyaan ‘kapan nikah?’ juga lebih sering menyasar ke perempuan, dibanding laki-laki. Laki-laki lebih sering ditanya soal jabatan, atau pekerjaan, dan sesuatu hal yang bisa diusahakan. Pertanyaan yang sama tidak berlaku untuk perempuan. Seperti hal yang mencolok di sosial kita adalah setinggi apa pun jabatan dan prestasi perempuan, mereka akan tetap ditanya soal nikah. Harus diakui, banyak pertanyaan semacam itu terlontar dari sesama perempuan, entah itu kerabat, teman, atau bahkan orang yang tak dikenal. Perempuan memang bias terhadap sesamanya. Menurut riset dunia kecenderungan itu telah banyak diteliti dan penyebabnya adalah evolusi yang mana otak bawah sadar manusia memiliki kemampuan memproses suatu hal lebih besar daripada otak sadar. Ia bekerja dengan cara pintas, yang dikenal sebagai heuristik. Heuristik merupakan bagian otak reptil manusia yang terbentuk dari pengalaman. Misal ketika pertama kali terkena api, kita mengaitkannya dengan panas. Seterusnya, otak akan mengasosiasikan api dengan panas. Sama seperti mengaitkan kejadian perempuan itu telah menikah, memiliki anak, dan hidup bahagia bersama keluarganya maka dari sini otak akan mengaitkan nikah dengan bahagia. Begitu juga dengan bias gender. Ketika perempuan dibesarkan dalam lingkungan yang tidak proporsional, di mana laki-laki berada di posisi teratas, maka otak mereka akan mengaitkan laki-laki sebagai “pemimpin dan sukses” yang sebaliknya berlaku untuk deskripsi perempuan. “Perempuan juga diasumsikan tidak kompeten, sementara laki-laki diasumsikan kompeten, sampai semua terbukti sebaliknya,” ungkap Joan Roughgarden, seorang ahli ekologi dan biologi evolusioner dari Amerika Serikat. Untuk mendapatkan pengakuan yang sama, perempuan harus bekerja dua kali lebih keras dibanding laki-laki. Teori itu sudah dibuktikan oleh Catherine Nichols, seorang penulis asal Boston. Ia pernah mengirim sinopsis novelnya kepada 50 agen penerbit menggunakan nama asli tapi hanya mendapat dua respons positif. Sementara ketika menggunakan nama laki-laki, Nichols menerima 17 balasan positif.

Kembali ke pertanyaan ‘kapan nikah?’Aku pun semakin melihat apa yang ada di sekitarku ini memang menjadi realita hidup yang benar terjadi di masyarakat kita. Lantas “apakah salah dengan orang yang memilih jalan hidupnya untuk tidak menikah?” Aku semakin tertawa ketika umurku berada di masa usia yang sudah matang untuk melakukan pernikahan. Banyak sekali teman dan orang-orang terdekatku seperti keluargaku sendiri serta tetangga yang begitu sering sekali melontarkan pertanyaan ‘kapan nikah?’ ketika mereka berjumpa denganku. Padahal masih begitu banyak pertanyaan menarik lain yang bisa mereka ajukan seperti “Bagaimana perjalananmu hidupmu?” Ah rasanya aku begitu muak dan ingin berpindah kewarganegaraan saat mendapatkan pertanyaan ‘kapan nikah?’. Ketika mendapatkan pertanyaan itu aku hanya merespon, “aku masih sibuk mempelajari makna hidup dan belajar bagaimana untuk bertahan hidup”. Tak hanya itu, jika orang-orang di sekitarku hanya ingin melakukan percakapan mendalam mengenai pernikahan, aku sudah menyiapakan jawaban untuk membela diriku sendiri. Pembelaan itu sebagaimana aku menjalani kehidupan sendiri karena pilihanku sendiri, menikah juga karena pilihan juga, bukan karena tekanan orang lain. Masih banyak orang menarik di luar sana yang belum aku kenal dan aku temui. Masih banyak pula daftar impian yang harus aku lakukan sebelum menikah. Menikmati hidup sambil meraih kemapanan finansial melalui karir serta kemapanan emosional dengan banyak belajar menjadi pribadi yang berkualitas, karena aku yakin jika siapapun pasanganku nanti akan membutuhkan kedua hal tersebut saat berumahtangga. Tak hanya itu juga, semakin lama aku single, makin banyak waktu pula untuk evaluasi keinginan dan kriteria calon pasanganku nantinya karena memang dari sekian kisah cintaku saat menjalin hubungan dengan laki-laki sebelumnya selalu tidak berjalan mulus maka dari itu aku tidak ingin menikah dengan seseorang begitu saja. Selama aku menjalani hidup sendiri, aku juga punya banyak waktu untuk bercermin, melihat segala kelebihan serta kekurangan yang harus aku perbaiki untuk hidup. Logikaku sih untuk mendapat pasangan terbaik, aku harus menjadi diriku yang terbaik pula dengan kedewasaan dan pengalaman yang bertambah seiring waktu. Dari sini juga aku jadi makin tahu seperti apa pernikahan idealku di masa depan nantinya karena aku masih memiliki waktu untuk mencari inspirasi pada konsep pernikahanku nantinya. Bagiku pernikahan adalah ritual yang begitu sakral yang terjadi sekali dalam seumur hidup, maka dari itu aku harus lebih mencari gambaran untuk pernikahan yang aku inginkan. Ah pesta pernikahan idealku kelak masih sama pada impianku, aku hanya ingin menikah dengan jodohku nanti di depan pantai dan dihadiri oleh orang-orang terdekatku dan orang-orang yang berpengaruh di dalam hidupku.

 

 

                                                                        Denpasar, 23 Februari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *