Awal Mula Cinta Sesungguhnya Adalah Negara Api Menyerang
Bermula pada Mei 2019, temanku sekantor mengenalkan aku kepada salah satu cowok di Timika. Niatan dari perkenalan itu hanya sebagai ajang gebetan atau teman nongkrong biar ada teman jalan selama aku kerja di Timika. Singkat cerita aku sama cowok itu jadi deket dan kita berdua memutuskan untuk berpacaran.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun hingga aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku dan memutuskan kembali ke Bali lagi. Dari situ hubunganku dengan cowok itu semakin menuju ke asmara yang bisa dikatakan serius. Selama berpacaran, ia selalu membawaku pergi untuk ikut serta dalam acara keluarganya. Tentunya ia dari keluarga yang bisa dikata ‘ada nama’ di kota Timika ini. Menjalin hubungan yang masih sebatas pacaran dengan keluarga privilage saat itu bisa dikata mulus dan hampir tidak ada cacat seperti kisah asmaraku sebelumnya.
Saat aku di Bali pada awal 2020, ia mengunjungiku untuk menghabiskan waktu liburan awal tahun baru bersama. Kami berdua mengunjungi Nusa Penida selama seminggu, layaknya dua sejoli yang dimabuk asmara seraya satu pulau itu serasa hanya milik berdua saja.
Corona melanda, semua akses penerbangan dari Denpasar ke Timika ditutup, aku tidak bisa mengunjungi dia dan begitu sebaliknya, kami menjalani hubungan LDR. Selama LDR beberapa bulan tentunya aku tidak tahu seperti apa aslinya dia selama aku nggak berada dekat dengan dia. Hingga di Oktober 2020 aku memutuskan untuk kembali ke Timika dan membuka usaha sendiri clothing brand saat itu. Aku menyewa satu ruko untuk aku tinggali dan membuat usaha demi bisa dekat dengan cowok itu supaya kita tidak LDR lagi. (Tentunya aku cewek yang keterlaluan kala itu seperti yang sebelum-sebelumnya aku selalu menjadikan hubungan dengan laki-laki jadi lebay).
Sekembalinya ke Timika, aku menjalani hubungan pacaran yang lebih serius namun tentunya ada yang salah dalam hubungan ini, iya salah karena aku telah merusak citra diriku sebagai perempuan. Aku tidak bisa mengontrol mana yang baik dan benar. Cowok itu buntingin aku, tentunya saat itu kami melakukan atas dasar suka antara satu sama lain. Aku sendiri selama sebulan tidak merasakan sedang mengandung anaknya karena aku masih bisa melakukan aktivitas setiap hari dengan biasa. Namun dari kejadian ini aku baru bisa menilai seperti apa cowok yang sedang menjalin kisah asmara denganku itu. Dua bulan berlalu dia juga tidak kunjung memberi tahu kepada keluarganya. Tentunya keadaanku berubah penuh dengan kepanikan, meski aku bukan anak sekolah maupun kuliah lagi saat sedang mengandung dan saat itu aku telah menginjak usia 29 tahun, namun rasa bersalah dan takut melandaku. Aku tidak bisa menceritakan keadaanku kepada keluarga yang jauh, aku hanya bisa menangis apalagi saat cowok itu tahu aku sedang hamil dia malah pergi jalan dinas ke Jakarta. Hasil Tespek yang aku tunjukan lewat pesan wa hanya dia baca tanpa merespon apapun. Posisiku saat itu hanya seperti anak perempuan yang sudah hilang arah.
Aku memberanikan diri untuk menelepon