My Life as Ovi https://mylifeasovi.com "I say there are good people in the world, I want to be one of them." Thu, 02 Apr 2020 06:52:43 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.5 https://mylifeasovi.com/wp-content/uploads/2020/03/cropped-ovi-32x32.jpeg My Life as Ovi https://mylifeasovi.com 32 32 About me https://mylifeasovi.com/2020/04/01/about-me/ https://mylifeasovi.com/2020/04/01/about-me/#respond Wed, 01 Apr 2020 07:16:52 +0000 https://mylifeasovi.com/?p=300
My name is Sovia, everyone loves to call me Ovi as short and simple name. Since I published my first book at 2015 I used name author Ovi Sriwedari. Right now Ovi become the main character in my life then I finally decided to make mylifeasovi.com for my website.
Well welcome to my page online sharing platform. Through this blog I share all of my interests into Adventure, Travel, Environment, Writing, Photography, and etc. You can find me travelling somewhere, taking photos, telling a story, and having fun going on a wild adventure the world. My passion is not only for travelling and challenge myself to get experience on adventure but also spreading love to other human being by share what I could help others and save our home from global climate.
Hit me up at ovisriwedari@gmail.com

]]>
https://mylifeasovi.com/2020/04/01/about-me/feed/ 0
Menyentuh Kehidupan di Jantung Papua https://mylifeasovi.com/2020/04/01/menyentuh-kehidupan-di-jantung-papua/ https://mylifeasovi.com/2020/04/01/menyentuh-kehidupan-di-jantung-papua/#respond Wed, 01 Apr 2020 02:07:31 +0000 https://mylifeasovi.com/?p=282
Pemandangan menuju Mimika Papua dari atas pesawat. (Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
        Hidup saya berubah ketika saya mendapatkan sebuah kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Papua. Saya tidak pernah membayangkan tempat ini sebelumnya, namun ketika pesawat yang saya tumpangi melintasi langit pulau Papua beberapa saat sebelum menyentuh landasan, saya melemparkan pandangan keluar dari balik jendela sebelah kursi tempat duduk saya, seketika mata saya terkagum dengan suguhan keindahan alamnya. Iya, saya terpesona dengan daratan Papua yang dipenuhi oleh hutan lebat yang masih hijau. Dengan bentang geografis yang sangat luas, Papua adalah salah satu pulau terbesar di Indonesia serta yang terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Maka tidak mengherankan juga ketika saya berada di Papua dan ingin mengunjungi tempat lain di luar Mimika, saya harus menggunakan moda transportasi udara untuk sampai ke tempat yang ingin dituju. Saat di Papua saya selalu diperkenalkan dengan sesuatu yang baru; keindahan alam baru, aroma baru, orang-orang baru, dan jenis makanan baru. Semua hal tersebut membuat saya semakin hidup. Selama di Papua, saya semakin ingin melengkapi diri saya dengan mengenal lebih dalam mengenai budaya, suku, dan keanekaragam hayati Papua.
Pemandangan Desa Pogapa dari atas pesawat perintis. (Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
           Pada Mei 2019, saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah desa di wilayah Pegunungan Tengah. Desa itu bernama Pogapa, yang secara administratif terletak di Distrik Homeyo, salah satu daerah di pedalaman Kabupaten Intan Jaya. sebuah pesawat perintis mengantar kami langsung menuju desa tersebut yang juga memiliki landasan tanah untuk didarati pesawat perintis. Desa mungil ini berada pada ketinggian di atas 2000 mdpl, maka jangan ditanya lagi, suhu udara di sana begitu dingin bagi saya, meskipun merupakan hal biasa bagi masyarakat yang bermukim di sana. Pada umumnya mereka jarang menggunakan pakaian berbahan tebal untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin. Menemui kaum pria dengan hanya mengenakan koteka di dalam kepungan suhu dingin desa Pogapa bukan pemandangan yang langka karena masyarakat masih memeluk erat tradisinya.
Saya bersama masyarakat Pogapa.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
Pogapa sendiri banyak dihuni oleh Suku Moni, yakni salah satu suku di wilayah Pegunungan Tengah yang banyak mendiami daerah pedalaman Kabupaten Intan Jaya. Mereka sendiri menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam seperti sayur-sayuran dan berkebun kopi. Saya pun tidak ketinggalan untuk mencicipi kopi asli Pogapa yang memang memiliki aroma khas tersendiri. Selama tiga hari di Pogapa, saya banyak berbaur dengan masyarakat suku Moni.
Memetik worterl bersama salah satu mama di ladang.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
Orang-orang Pogapa begitu ramah kepada orang baru seperti saya.  Saat itu saya ikut membantu mama-mama memetik hasil panen sayuran di ladang mereka, lalu melakukan trekking bersama anak-anak Pogapa menuju sungai Kemabu, dan menikmati hijaunya pemandangan pepohonan di setiap arah mata memandang. Sungguh ini bagian dari ekowisata yang harus diperkenalkan dan dijaga oleh semua generasi muda, khususnya anak-anak Papua.
Pepohonan Pinus di Pogapa.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
          Berbicara mengenai Papua, tidak akan ada habisnya karena memang tanah Papua begitu banyak menyimpan sumber daya alam. Menurut saya, di manapun daerahnya selama itu masih di pulau Papua, semua selalu tampak indah dan pastinya saya begitu bangga menjadi Warga Negara Indonesia yang bisa melakukan perjalanan ke bagian Indonesia paling timur yang indah ini.
Saya menerbangkan drone di lapangan terbuka di Pogapa.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
          Lalu sebuah perjalanan panjang lainnya dimulai. Pada Juni 2019 saya sangat beruntung karena dapat mengunjungi tiga kabupaten di Papua sekaligus dalam kurun waktu satu minggu. Tentunya ini menjadi pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Perjalanan saya dimulai dari Timika menuju Jayapura dengan menggunakan pesawat. Selama dua hari di Jayapura, saya begitu terpukau dengan kekayaan alam yang berada di sana. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan luas Danau Sentani yang dikelilingi perbukitan hijau nan asri. Pemandangan tersebut menyegarkan mata saya yang sebelumnya selalu hidup di penatnya kota dengan hilir mudik bisingnya kendaraan dan polusi udara.
Pemandangan Daau Sentani di Jayapura.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
Tak sampai di situ saja, saya juga bertemu dengan masyarakat asli Suku Sentani dan mereka mengajak saya untuk menikmati papeda di pinggir Danau Sentani. Papeda sendiri bagi saya adalah makanan khas Papua yang begitu unik dan nikmat yang pernah saya cicipi selama disana.
Tinggal di tanah yang paling indah di bumi ini membuat saya sadar bahwa ada koneksi yang menjadikan Papua bagaikan rumah sendiri. Di sini saya selalu belajar untuk menghormati apapun yang ada di sekitar karena berkat lingkungan sekitarlah saya dapat menikmati kehidupan.
Rumah milik Suku Sentani di pesisir Danau Sentani.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
            Setelah menyelesaiakan perjalanan di Jayapura, saya terbang ke Wamena. Wamena adalah sebuah lembah besar yang berada di Kabupaten Jayawijaya. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Wamena, atau yang biasa juga disebut sebagai Lembah Baliem, saya menyaksikan pemandangan lembah hijau yang indah dan juga bertemu dengan orang-orang Suku Dani, yang merupakan masyarakat asli Lembah Baliem. Ini juga merupakan sebuah pengalaman menarik bagi saya.
Bersama masyarakat Suku Dani.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
Selama berada disini, saya dapat merasakan betapa orang-orang Suku Dani hidup dalam kedamaian. Saya pun sempat diajak untuk mengikuti upacara adat bakar batu di kampung Jiwika, yang merupakan salah satu kampung yang ada di Lembah Baliem. Saya turut menikmati hidangan makanan khas dari hasil bakar batu yang dimasak oleh mama-mama seperti keladi, petatas, dan daging babi. Sampai saat ini saya masih bingung mengapa hasil masakan dari bakar batu begitu nikmat, meski mereka sama sekali tidak memberikan bumbu tambahan layaknya rempah-rempah atau garam pada hidangan modern dalam proses memasak. Setelah mengikuti seremoni bakar batu, saya melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat indah di Lembah Baliem. Seperti trekking menaiki perbukitan dan menerobos hutan untuk menjumpai masyarakat kampung lain yang masih tinggal di rumah adat atau honai tanpa adanya aliran listrik.
Honai milik Suku Dani.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
Keindahan lain yang masih menyimpan tanya pada diri saya adalah saat menjumpai area berpasir layaknya pantai yang berada di atas bukit berjarak ribuan meter di atas permukaan laut. Dari manakah asal mula pasir pantai itu? tapi inilah Papua. Tanah yang masih menyimpan beribu misteri. Kalian beruntung jika memiliki kesempatan untuk mengunjungi dan menjelajahnya.
Pasir Pantai di Wamena.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
             Perjalanan terakhir saya lanjutkan dengan penerbangan selama kurang lebih tiga puluh menit dari Wamena menuju Yahukimo, Kabupaten Dekai. Perjalanan saya kali ini cukup berbeda dari perjalanan di daerah Papua sebelumnya karena di sini saya menghabiskan waktu selama dua hari bersama Suku Momuna yang masih hidup dan tinggal di tengah hutan.  Setelah tiba di bandara Dekai, saya langsung mencari mobil sewaan untuk mengantarkan saya ke Kampung Massi. Kampung ini menjadi titik berangkat trekking saya memasuki hutan hujan tropis. Untuk sampai di rumah pohon milik Suku Momuna, saya membutuhkan waktu sekitar dua jam melewati medan hutan yang masih perawan, dengan telapak kaki berbalut sepatu karet. Langkah saya selalu terhambat di tengah perjalanan. Sering kaki saya masuk ke dalam lumpur yang dalam, terpeleset, lalu jatuh. Dalam hati saya sedikit merasa malu sendiri dengan anak dari salah satu keluarga Suku Momuna yang menemani perjalanan saya di tengah hutan, karena ia sama sekali tidak memakai alas kaki apa pun namun langkahnya tetap tegap dan terlihat tanpa beban.
Perjalanan menuju rumah Suku Momuna di tengah hutan Yahukimo, Dekai.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
Setelah perjalanan yang begitu melelahkan dan penuh perjuangan, akhirnya saya sampai di sebuah rumah milik Suku Momuna. Keluarga suku ini masih tinggal di rumah yang didirikan di atas pohon, berbahan kayu yang mereka ambil dari pepohonan sekitar. Rumah pohon tersebut memiliki tinggi sekitar sepuluh meter dan dihuni sekitar lima belas orang yang masih berasal dari satu garis keturunan Suku Momuna.
Rumah Pohon milik Suku Momuna di tengah hutan Yahukimo, Papua.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
Ketika saya sampai tepat di depan rumahnya, mereka menyambut kami dengan melakukan tarian kecil sambil mengeluarkan suara khas suku pedalaman yang berlangsung selama kurang lebih tujuh menit. Beberapa orang dari keluarga itu menyapa dengan senyuman ramah sembari membantu membawakan tas saya.
Suasana malam di rumah pohon bersama keluarga Suku Momuna. (Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari). 
Dua hari tinggal di tengah keluarga Suku Momuna, tentunya menjadi tantangan bagi saya yang sebelumnya memang selalu dimanjakan dengan fasilitas lengkap di kota. Sepanjang waktu itu, saya belajar dan memahami cara untuk bertahan hidup di hutan; mulai dari mencari makanan dengan cara berburu, mencari ulat sagu, memilih dan memetik dedaunan yang dapat dimakan, dan mencari akar umbi-umbian.
Ulat sagu yang kami dapati dari batang pohon sagu.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
Saya ikut belajar mengolah bahan makanan yang setiap hari mereka dapatkan dari hutan. Setelah makanan siap dihidangkan, mereka selalu berbagi makanan sama rata kepada setiap orang yang ada di dalam rumah. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan bagi saya. Kebersamaan yang erat dan kesederhanaan adalah kemewahan sosial yang tidak ternilai bagi keluarga Suku Momuna di pedalaman nan jauh di tengah hutan Yahukimo.
Pemandangan hutan hujan tropis di Yahukimo, Dekai diambil dengan kamera drone.(Sumber foto dari dokumen pribadi @ovisriwedari).
          Setelah melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Papua, saya menyadari bahwa Papua adalah destinasi hijau yang harus dijadikan sebagai salah satu lokus konservasi dunia, karena tak diragukan lagi bahwa disini tersimpan sumber daya alam yang besar terbalut hamparan hutan hujan tropis. Tak dapat dipungkiri juga di dalam hutan Papua begitu banyak satwa endemik dan tumbuhan khas yang berkembang biak secara bebas dan subur. EcoNusa sebagai sebuah yayasan yang berfokus pada upaya peningkatan berbagai inisiatif tingkat lokal dan internasional dalam rangka pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan di wilayah Papua sudah sepantasnya mengajak generasi muda untuk menjaga dan ikut andil dalam melestarikan hutan Papua, karena luasnya hutan Papua menjadi salah satu bagian dari paru-paru dunia untuk menopang kelangsungan hidup seluruh mahkluk di bumi.
#BeradatJagaHutan #PapuaBerdaya #PapuaDestinasiHijau #EcoNusaXBPN #BlogCompetitionSerie
Artikel berikut diikutsertakan ke dalam blog kompetisi Wonderful Papua di EcoNusa Foundation dan Blogger Perempuan Network

]]>
https://mylifeasovi.com/2020/04/01/menyentuh-kehidupan-di-jantung-papua/feed/ 0